Thursday, September 18, 2008

Perjuangan Mencari Kebebasan di Tengah Perang Vietnam

Judul Film : Rescue Dawn
Genre : Drama/Aksi
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn, Jeremy Davies, Marshal Bell
Sutradara : Werner Herzog
Produksi : MGM
Durasi : 126 menit


Kebebasan merupakan hak manusia sekalipun ia seorang tawanan. Kebebasan juga merupakan suatu hal yang mahal di masa peperangan. Untuk mendapatkannya, nyawa menjadi taruhan terbesar.

Inilah yang dialami Dieter Dengler (Christian Bale), pilot Amerika Serikat yang ditugaskan menghalau jalur pasokan makanan ke Vietnam Utara yang melewati Laos. Namun sayang, misi tersebut tak dapat diselesaikan karena pesawat Dieter tertembak lalu terjatuh di tengah persawahan. Beruntung, dia masih hidup.

Akan tetapi, dia kemudian tertangkap gerilyawan Vietkong dan disiksa karena tidak mau menandatangani pengakuan bahwa Amerika Serikat sebagai penyebab terjadinya Perang Vietnam. Dieter tak mau mengkhianati negaranya. Dia pun lalu disekap di sebuah kamp di tengah hutan Laos.

Dalam sekapan tersebut, Dieter bertemu Duane (Steve Zahn), Eugene (Jeremy Davies) yang sama-sama berasal dari Amerika, dan beberapa tawanan lain. Mereka dimasukkan dalam satu gubuk. Ketika malam, kaki dipasung dan tangan diborgol satu sama lain agar tidak bisa melarikan diri. Para tawanan tersebut rupanya juga menolak menandatangani sebuah pengakuan.

Dieter ingin bebas dan merancang taktik agar bisa keluar dari sekapan tersebut. Rencana tersebut ditentang Eugene. Namun, tawanan lain justru malah mendukung niat Dieter. Mereka pun mulai menjalankan rencana, mulai dari mengumpulkan nasi, membuat kunci pembuka borgol, membobol dinding kayu, bahkan rela makan cacing.

Waktu untuk kabur ditentukan, yaitu tanggal 4 Juli. Namun, rencana itu berubah dan berganti menjadi saat musim hujan. Waktu ini dipilih untuk mengurangi kesulitan pasokan minuman ketika berada di hutan.

Akhirnya rencana itu berjalan setelah mereka mendengar bahwa para penjaga berencana membunuh tawanan karena kekuarangan pasokan makanan. Namun, mereka lebih dulu membunuh para penjaga yang lengah ketika jam makan. Selepas bebas, mereka memilih jalan masing-masing. Dieter pun pergi bersama Duane menuju Thailand dengan menerobos kekejaman hutan Laos.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini menggambarkan bagaimana mahalnya sebuah kebebasan di zaman Perang Vietnam. Kebebasan tersebut haruslah dipertaruhkan dengan nyawa. Bukan hanya musuh bersenjata yang bisa merenggut kebebasan, tapi juga kejamnya alam.

Buktinya, ketika Dieter dan Duane lepas dari sekapan, mereka masih harus bertarung dengan alam. Diguyur hujan lebat hingga terkena longsor dan harus mengarungi sungai menjadi hambatan dan tantangan dalam menuju sebuah kebebasan. Untuk bertahan hidup, mereka saling berbagi nasi aking yang telah dikumpulkan. Memakannya pun hanya dibasahi dengan air hujan.

Namun, di balik itu ada hambatan lain. Kebencian penduduk Vietnam terhadap orang Amerika juga harus dihadapi Dieter dan Duane. Mau tidak mau mereka harus menghindari penduduk. Duane pun menjadi korban kebencian para penduduk tersebut.

Dieter yang berdarah Jerman-Amerika juga harus melawan mentalnya untuk bertahan hidup. Tak hanya Dieter, Duane pun harus bertindak sama. Sayang, Duane tak kuat sehingga ingatannya hilang. Perasaan putus asa karena tak juga ditolong kesatuannya sempat membuat Dieter putus asa. Perasaan tersebut hampir membuat ingatannya hilang.

Sepanjang film, perjuangan seorang pilot US Navy meraih kebebasan digambarkan begitu berat. Suasana yang dibangun pun dibuat suram dan sepi untuk menggambarkan beratnya beban yang dihadapi Dieter. Bahkan, di film ini tak ada desingan peluru yang membabi buta dan musik heroik layaknya film perang ala Hollywood.

Ketika Model Majalah Dewasa Jadi Ibu Asrama

Judul Film : The House Bunny
Genre : Drama komedi
Pemain : Anna Faris, Colin Hanks, Emma Stone, Kat Dennings, Katharine
McPhee, Rumer Willis, Kiely Williams, Dana Goodman
Sutradara : Fred Wolf
Produksi : Universal Pictures
Durasi : 97 menit


Kehidupan beberapa mahasiswi yang tinggal di sebuah asrama berubah drastis begitu diasuh seorang model majalah pria dewasa. Mereka kini lebih berani melihat hidup dan mampu bersosialisasi dengan sejumlah pemuda. Bahkan, mereka berhasil menemukan jati dirinya.

Adalah Shelley (Anna Faris) yang mengubah kepribadian para mahasiswi tersebut. Di awal film, Shelley yang tinggal bak putri di house bunny—tempat menampung para model majalah pria dewasa—harus keluar dari rumah tersebut bertepatan ketika dia berulang tahun. Shelley kemudian berupaya mencari tempat tinggal baru yang dipenuhi wanita, mirip ketika dia tinggal di house bunny.

Sampai suatu ketika dia berkunjung ke asrama putri Phi Liota Mu yang terkenal berkelas dan mewah. Sayang dia ditolak karena bukan sebagai mahasiswi. Apalagi tampilan Shelley yang terlalu seksi. Namun, setelah diberi tahu bahwa di asrama putri Zeta membutuhkan ibu asrama, dia pun melamar pekerjaan tersebut.

Asrama putri Zeta yang terlihat biasa dan sederhana rupanya bermasalah. Asrama Zeta terancam ditutup jika tak ada mahasiswi lain yang berminat tinggal di situ. Tak ada mahasiswi berarti tak ada dana untuk Asrama Zeta.

Shelley yang mengetahui permasalahan tersebut bertekad membantu Natalie (Emma Stone), Mona (Kat Dennings), Harmony (Katharine McPhee), Joanne (Rumer Willis), Lily (Kiely Williams), dan Carrie Mae (Dana Goodman) untuk mempertahankan tempat tinggal mereka dari ancaman dibekukan. Akhirnya, Shelley diterima menjadi pengasuh asrama Zeta.

Berbagai upaya dilakukan Shelley agar Asrama Zeta diminati. Upaya itu antara lain mengubah penampilan penghuni Zeta, dari tak mengenal merias wajah dan terlihat tak menarik menjadi lebih modis dan tampak seksi. Usaha lainnya yaitu mengadakan pesta agar banyak mahasiswi tertarik tinggal di Zeta.

Upaya ini mendapat perlawanan dari penghuni Asrama Phi Liota Mu. Asrama Zeta dan Phi Liota Mu pun bersaing memburu calon penghuni baru.

The House Bunny memiliki alur cerita yang sederhana. Tema yang diangkatnya pun dikemas dengan sangat ringan sehingga mudah diterima penonton. Sayangnya, faktor logika terkadang menjadi hal yang kurang diperhatikan dalam film arahan Fred Wolf ini. Contohnya pesta yang diadakan para penghuni Asrama Zeta sangat meriah padahal mereka sedang kesulitan keuangan. Selain itu, penghuni Asrama Zeta juga sering berganti-ganti pakaian dan selalu tampil dengan riasan yang tergolong menor.

Meskipun begitu, karakter Shelley yang cantik dan seksi cukup memikat mata penonton. Bahkan, keseksian Shelley mampu membuat detak jantung seorang kakek yang tinggal di panti jompo berdenyut kencang.

Dalam film ini, karakter Shelley yang terlihat seksi tapi agak bodoh juga menjadi pengundang senyum penonton. Hal ini tampak ketika Shelley berkencan dengan Oliver, relawan di panti jompo yang pintar. Oliver rupanya tak tertarik dengan kecantikan dan keseksian Shelley. Itu membuat Shelley salah tingkah.

Karakter Shelley pula yang membuat kepribadian para penghuni Asrama Zeta berubah. Setelah Shelley kembali ke house bunny karena akan dinobatkan sebagai ‘Miss November’ untuk majalah pria dewasa, para penghuni Zeta mulai menemukan jati dirinya.

Bahkan mereka menganggap bahwa kecantikan ataupun penampilan bukanlah hal penting. Di balik itu, mengisi otak dengan berbagai ilmu pengetahuan agar menambah wawasan jauh lebih penting daripada kecantikan ataupun keseksian yang selama ini diajarkan Shelley. Hal ini justru menjadi pemikat calon penghuni baru Asrama Zeta.

Wednesday, September 03, 2008

Lanjutan Pertarungan Si Anak Setan

Judul Film : Hellboy II: The Golden Army
Genre : Laga/Fantasi
Pemain : Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones, Anna Walton, James Dodd,Luke Goss
Sutradara : Guillermo Del Toro
Produksi : Universal Pictures
Durasi : 120 menit


Petualangan Anak Setan berkulit merah asal neraka, Hellboy (Ron Perlman), berlanjut di film Hellboy II: The Golden Army. Dalam film ini Hellboy dihadapkan pada permasalahan yang lebih kompleks. Tokoh-tokoh yang membantu Hellboy juga bertambah. Begitu pula dengan jumlah musuhnya yang berasal berbagai macam jenis makhluk aneh. Jadinya, kisah film ini terlihat lebih seru dibanding film sebelumnya.

Di awal film, melalui dongeng sebelum tidur yang dibacakan Profesor Broom kepada Hellboy kecil, dikisahkan bahwa beberapa tahun lalu terjadi pembantaian manusia yang dilakukan pasukan Prajurit Emas yang sangat kuat dan tak dapat dikalahkan. Pasukan ini diciptakan Raja Balor.


Namun, akhirnya terjadi kesepakatan perdamaian antara umat manusia dan Raja Balor. Prajurit Emas pun ditidurkan di sebuah tempat rahasia. Sebuah mahkota yang dapat membangkitkan Prajurit Emas dibagi tiga.

Sayang, Pangeran Nuada (Luke Goss) tidak bisa menerima perjanjian itu dan mengasingkan diri di bawah kota Manhattan. Sampai akhirnya, Nuada melakukan penyerangan di sebuah tempat lelang untuk mendapatkan sebuah potongan mahkota. Tujuannya, ingin menghidupkan kembali Prajurit Emas dan menghancurkan umat manusia.


Para agen Biro Penelitian Paranormal dan Pertahanan (BPRD), Hellboy, Liz Sherman (Selma Blair), dan si manusia ikan, Abe Sapien (Doug Jones), dipanggil untuk menyelidiki penyerangan di tempat lelang. Penyeledikan itu membawa Hellboy ke pasar Troll. Di sinilah Hellboy mulai menyadari bahwa dongeng yang pernah didengarnya akan menjadi nyata. Penyelidikan ini juga mempertemukan Hellboy dengan Dr Johan Krauss (James Dodd), makhluk berbentuk gas yang mendiami pakaian robot.

Setelah membunuh Raja Balor yang juga ayahnya serta berhasil mendapatkan dua bagian mahkota, Nuada mengincar saudara kembarnya, Putri Nuala (Anna Walton) yang memegang satu bagian mahkota. Di pasar Troll, Nuala ditolong Abe dari incaran Nuada. Nuala juga berhasil mengambil peta lokasi Prajurit Emas ditidurkan.


Namun, Nuada kembali berhasil mendapatkan peta tersebut dan menculik Nuala. Selanjutnya, pertarungan antara Hellboy beserta teman-temannya untuk menyelamatkan umat manusia dan Putri Nuala berlanjut dengan mendatangi tempat Prajurit Emas ditidurkan.

Film yang diangkat dari komik ini dibangun dengan alur cerita yang menarik. Guillermo del Toro, sutradara sekaligus penulis skenario, menyusun jalan cerita ini dengan apik. Penonton terkadang dibawanya dalam suatu pertarungan yang seru dan menegangkan dengan menampilkan berbagai macam mahkluk berwujud aneh. Di sisi lain, penonton dihanyutkan pula oleh kekonyolan karakter Hellboy yang tak mau diatur, keras kepala, dan ingin dikenal luas.


Penonton bahkan dibuat khawatir karena Hellboy ternyata bisa saja terbunuh oleh mata tombak Pangeran Nuada yang menancap di dada Hellboy. Akhirnya, alur cerita film yang dirilis tanggal 10 September di Indonesia ini tidak monoton dan membosankan.

Selain itu, penonton juga digiring ke suasana romantis, khususnya antara kisah asmara Hellboy dan Liz maupun Abe dan Nuala. Hal ini jelas terlihat ketika rasa cinta begitu kuat mendorong Liz untuk menyelamatkan Hellboy ketika terkena mata tombak. Begitu juga dengan cinta Abe yang mendorongnya menyelamatkan Nuala.


Sayangnya, alur cerita yang dibangun dengan apik dan ciamik dari awal hingga pertengahan cerita tidak diimbangi dengan akhir cerita yang seru dan menegangkan. Akibatnya akhir cerita menjadi antiklimaks karena kekuatan Pasukan Emas tidak terlalu tampak. Akhir film ini malah menggambarkan Putri Nuala membunuh dirinya yang sekaligus menghabisi nyawa Nuada.

Tuesday, August 26, 2008

Aku dan Kau (1)

Aku hanya tahu apa yang kutahu
Dan kau hanya tahu apa yang kau tahu

Tapi, aku ingin tahu apa yang kau tahu
Dan aku ingin kau tahu apa yang aku tahu

Bahwa aku tak tahu siapa kau
Dan kau tak tahu siapa aku

Jangan katakan kau tak mau tahu siapa aku
Dan aku tak usah mau tahu siapa kau

Meski aku ingin tahu siapa kau
Dan kau tak ingin tahu siapa aku

Aku hanya ingin tahu siapa kau
Dan aku ingin kau tahu siapa aku

Aku ingin hanya kau yang tahu siapa aku
Dan hanya aku yang tahu siapa kau

Aku ingin kau tahu
Dan kau harus tahu

Bahwa aku adalah aku
Dan kau adalah kau


Bekasi, 08-08-2008

Aku dan Kau (2)

Kau ingin tahu siapa aku
Dan kau ingin aku tahu siapa kau

Aku ingin kau tahu
Dan kau memang harus tahu

Bahwa kau adalah kau
Dan aku adalah aku

Aku ingin juga kau tahu
Dan kau memang harus tahu

Bahwa aku tak seperti yang kau kira
Dan kau tak seperti yang kukira

Jadi, kau tetaplah kau
Dan aku tetaplah aku


Bekasi, 08-08-2008

Hadiah dari Hernowo*)


Mengapa harus menulis dari otak kanan dulu baru otak kiri? Itulah pertanyaan yang menggelayut dalam pikiranku ketika membaca hadiah 1 Sekolah Menulis Online. Aneh memang, kok menulis harus seperti itu.

Namun, pikiranku lalu berputar, mencoba mencari tujuan hadiah ini. Sampai akhirnya, aku teringat tentang apa yang pernah ditulis oleh Hernowo, penulis buku Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quatum Writing, dan buku lainnya yang berhubungan dengan kemahiran berbahasa, khususnya tentang membaca dan menulis.

Menurut Hernowo, kesulitan awal ketika menulis adalah bagaimana mengeluarkan ide-ide yang bergentayangan di kepala. “Bagaimana mendobrak kebuntuan menulis?” kata Hernowo. Itulah yang menjadi permasalahan penulis pemula (dan juga mungkin penulis senior suatu saat). Wajar memang jika ketika menulis sulit untuk menuangkan ide dalam bentuk kalimat yang pas, enak dibaca, dan gurih.

Di beberapa buku Hernowo tersebut ada yang menyinggung sangat dalam ataupun hanya sebatas permukaan tentang cara mengatasi kebuntuan menulis. Aku lupa di buku yang mana Hernowo menerangkan cara kebuntuan menulis. Meskipun begitu, intinya ada beberapa teknik yang disampaikan oleh Hernowo untuk mengatasi hal tersebut.

Cara pertama dapat dilakukan dengan fast writing atau menulis cepat. Dalam teknik ini dijelaskan bahwa untuk melepas hambatan menulis, si penulis harus menuliskannya apa saja yang benar-benar terlintas dalam pikiran. Hernowo bahkan mengancam agar tidak memikirkan tata bahasa ataupun hal-hal yang berkaitan dengan itu, seperti tanda baca, susunan kalimat, pokoknya apa saja yang menghambat proses penulisan.

Rupanya, cara ini digunakan memang untuk menggairahkan otak kanan agar bisa bebas dan melayang sesuka hati. Maka dari itu, Hernowo menyarankan untuk tidak terlalu terpaku untuk menggunakan otak kiri. “Bagaimana mau bisa menulis kalau terus memikirkan kata ini pas tidak, EYD-nya sudah benar belum ya, atau kalimat ini berhubungan nggak dengan kalimat sebelumnya. Itu kan tugas otak kiri,” mungkin begitu kira-kira ucapan Hernowo dalam sebuah bukunya.

Bahkan, Hernowo menyarankan untuk terus menulis dalam sebuah buku harian. Itu sangat bermanfaat melatih otak kanan, karena dalam buku harian kita bebas menulis apa saja, dengan gaya apa saja, asalkan sesuka kita. Jadi, mirip buku chicken soup versi sendiri.

Menulis buku harian pun, saran Hernowo, harus dilakukan secara rutin, meskipun hanya satu kalimat. Kendati hanya satu kalimat, itu rupanya sudah melatih otak kita untuk terus menulis. Setidaknya itu memberikan stimulus kepada otak untuk tetap menulis.

Hernowo juga menyarankan agar menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Jika kita tidak tahu harus menulis apa, tulis saja seperti itu, ‘saya tidak tahu apa yang akan saya tulis.” Aneh memang tapi itu bisa mendobrak kesulitan kita untuk menulis.

Aku pernah melakukan apa yang disarankan pegawai di penerbit Mizan itu. Awalnya memang sulit. Aku bahkan menulis ‘saya tidak tahu harus menulis apa’ di hampir seluruh tulisan di buku harian. Tapi dari situ, lama-kelamaan entah dari mana ada saja ide untuk menulis ini, menulis itu, dan sebagainya. Makanya, saran Hernowo ini rupanya cukup ampuh buatku.

Di awal-awal menerapkan pelajaran dari pria kelahiran Magelang (kebetulan sama dengan daerah asalku) itu, saya pernah menulis ‘saya tidak tahu harus menulis apa’ sebanyak satu halaman. Dari situ hingga bisa menulis tanpa harus diawali ‘saya tidak tahu harus menulis apa’, sekarang sudah terkumpul tiga buku harian yang semuanya ditulis dalam bentuk soft copy. Bahkan, buku harian itu saya namakan Jejak 1, Jejak 2, dan Jejak 3. Isi ketiga buku itu hanyalah persoalan sehari-hari yang ringan dan yang dialami setiap hari.

Meski cuma berisi tulisan-tulisan ringan, ada perasaan bangga begitu tulisan itu dicetak dan dijilid. Rasanya seperti menghasilkan sebuah buku lalu dicetak sendiri. Namanya juga sederhana, kumpulan tulisan itu akhirnya dicetak menggunakan printer di atas kertas ukuran A4 yang dibagi dua. Setiap halaman dari kertas tersebut diisi tulisan ringan tersebut. Setelah itu dijilid. Untuk menambah keren, saya juga selipkan kata pengantar di setiap buku itu. Sekarang, buku itu tersimpan dengan rapi.

Untuk teknik kedua, Hernowo mungkin terinsipirasi dari pandangan Tony Buzan yang mencetuskan mind map. Mind map atau pemetaan pikiran ini menuliskan sebuah kata tepat di tengah-tengah kertas. Lalu, kata tersebut dihubungkan dengan hal lain yang masih berkaitan. Begitu terus, sampai akhirnya kita dapat memilih salah satu tema dari pemetaan pikiran tersebut. bahkan kalau perlu ditambahkan dengan gambar-gambar atau hal-hal lain yang mendukung, seperti pemberian garis dengan warna yang berbeda agar terlihat ciamik.

Untuk teknik yang satu ini, aku jarang menerapkannya. Kayaknya kurang cocok denganku. Apalagi, menurutku, cara itu lebih njelimet. Akhirnya cara pertamalah yang sering aku gunakan.


*) Tulisan ini merupakan hadiah 1 untuk kelas Sekolah Menulis Online (SMO) yang aku ikuti.

Tuesday, August 19, 2008

Ketika Cermin Menghantui Manusia

Judul Film : Mirrors
Genre : HororPemain : Kiefer Sutherland, Paula Patton, Amy Smart, Mary Beth Peil, Cameron Boyce, Erica Gluck, Julian Glover, John Shrapnel
Sutradara : Alexandre Aja
Produksi : 20th Century Fox
Durasi : 110 menit


Bukan hantu atau makhluk halus yang menjadi sumber kengerian dalam film ini. Namun, cerminlah yang menjadi sumber ketakutan dalam film arahan Alexandre Aja ini. Ide cerita ini sepertinya mirip dengan film Mirror versi Indonesia yang dibintangi Nirina Zubir, yakni sama-sama mengambil cermin sebagai sumber ketakutan.

Kendati mengambil judul yang sama, cerita dalam film ini berbeda dengan film Mirror arahan Hany R Saputra itu. Kisah film Mirrors ala Alexandre Aja lebih menekankan bahwa di balik cermin ada kehidupan lain yang terkadang menakutkan.

Film ini dimulai dari diterimanya Benjamin Carson (Kiefer Sutherland), seorang mantan polisi, menjadi penjaga gedung tua. Gedung tua bernama Mayflower itu kini rusak akibat terbakar beberapa tahun lalu dan dibiarkan terbengkalai

Di saat yang sama Ben sedang mengatasi perasaan bersalah karena pernah menembak rekan sejawatnya ketika masih bertugas di kepolisian. Di samping itu, ia juga.berupaya memulihkan hubungan dengan keluarganya dan mengatasi ketergantungan terhadap minuman keras.

Hingga suatu ketika, saat ia menjaga gedung tua tersebut, Ben menemukan jejak telapak tangan yang menempel di sebuah cermin. Ia berusaha membersihkannya. Tapi, malah telapak tangannya tergores akibat pecahan kaca. Anehnya, cermin yang disentuhnya tidak ada yang pecah.

Setelah itu, di hari yang lain, lagi-lagi Ben menemukan keanehan-keanehan di gedung tersebut terutama yang terlihat dalam sebuah cermin. Keanehan tersebut mulai dari terbakarnya tubuh Ben yang terlihat di cermin, sedangkan di dunia nyata tubuhnya tidak terbakar. Kemudian, ada juga rintihan suara wanita, penampakan seorang wanita yang kesakitan, dan sebagainya.

Cermin tersebut akhirnya mulai meneror kehidupan Ben. Adik Ben, Angela Carson (Amy Smart), menjadi korban teror dari cermin. Ben pun mengkhawatirkan keselamatan sang istri, Amy Carson (Paula Patton), dan dua anak mereka, yakni Michael (Cameron Boyce) dan Daisy (Erica Gluck).

Ben pun mulai menyingkirkan semua benda yang dapat memantulkan bayangan. Bahkan, semua cermin ditutupi dengan cat. Setiap kaca di jendela dan pintu juga ditutupi dengan kertas koran.

Sampai suatu saat, cermin di gedung tua tersebut menggoreskan sebuah nama, yaitu Esseker. Naluri Ben sebagai mantan polisi muncul. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui makna Esseker dan menyelamatkan keluarga Ben dari teror cermin.

Tak ada yang baru dalam film produksi 20th Century Fox ini. Seperti film-film yang menyuguhkan ketakutan, film ini dikemas dengan nuansa suram dan kelam. Bahkan, gedung tua yang menyimpan misteri menjadi hal klise mengingat film horor kerap menampilkan setting ini. Rupanya tak hanya film horor dari Indonesia yang memberikan kesan angker melalui sebuah gedung tua, tetapi juga film arahan sutradara asal Perancis ini.

Sementara itu, dari sisi cerita juga tak istimewa. Alur cerita yang ditulis Alexandre Aja dan Gregory Levassuer mudah ditebak. Apalagi ketika adegan mulai menyeramkan. Tampilan berbagai macam keanehan ataupun keganjilan membuat penonton mudah menebaknya.

Akan tetapi, bagi penikmat film horor, keganjilan-keganjilan yang kian lama kian banyak dan menyeramkan dapat menjadi kenikmatan tersendiri. Apalagi, suguhan suara yang mendukung serta akting Kiefer Sutherland dan Paula Patton yang merefleksikan ketakutan dan kengerian mampu menyokong suasana yang ingin ditonjolkan dari film horor ini. Akhirnya, bersiaplah untuk menerima rentetan teror dari benda yang memantulkan bayangan itu.

Friday, August 15, 2008

Kerja keras dan santai di Anyer

Inilah para panitia liburan ke Anyer pada tahun 2006 lalu. Panitia itu (ka-ki) Tomo, Yoga, Kiki, Udin, dan gua. Sebelum pulang nggak ada salahnya dikit mejeng, iya kan? hehehehe.

Kalau yang ini ada di salah satu lereng yang di bawahnya banyak air. Adiknya Yoga, Tyas, kayaknya jadi ratuny tuh. hehehe. Sementara Dadang kecengesan karena kepanasan dan nggak pake topi.

Sedikit bergoyang di pinggir pantai karena Dadang 'Dado' Rachmat lagi unjuk suara dangdutnya.

Makan kok ada jenjangnya ya. Kira-kira Yoga makan apa ya, sedangkan Udin yang paling bawah kira-kira makan makanan kelas bawah kali ya.

Thursday, August 14, 2008

Penjaga Malam

Kiri-kanan: Udin, Tomo, Yoga yang baru aja selesai main bulu tangkis di lapangan dekat rumah, sedangkan saya baru aja pulang kerja. Biasanya kalau udah begini ngbrol sampai pagi. akhirnya jadi deh penjaga malam (tukang ronda maksudnya)

Ini dalam gayayang lain, meski posisinya beda.

Ini juga dengan gaya yang berbeda. Semua foto ini diambil secara otomatis dengan posisi kamera diletakkan di atas motor. Lumayan juga hasilnya, kan?

Monday, August 11, 2008

Petualangan Robot Pembersih Bumi

Judul Film : Wall-E
Genre : Animasi
Pemain : Fred Willard, Jeff Garlin, Ben Burtt, Sigourney Weaver
Sutradara : Andrew Stanton
Produksi : Walt Disney Pictures
Durasi : 98 menit

Kebiasaan buruk manusia yang membuang sampah sembarangan lambat laun akan menjadikan bumi dipenuhi sampah. Lalu, apa jadinya jika hal itu terjadi? Lantas, bagaimana dengan kehidupan manusia?

Melalui film animasi besutan Andrew Stanton ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab. Film ini mengisahkan bahwa bumi akhirnya hanya menyisakan sampah yang menggunung. Sementara manusia—yang tidak mau tinggal di lingkungan yang dipenuhi sampah—harus bermigrasi ke sebuah pesawat luar angkasa bernama Axiom.

Untuk membersihkan bumi, ditugaskanlah robot pembersih sampah. Sayang, hingga tujuh abad tugas tersebut belum selesai dan hanya menyisakan satu robot pembersih yang bernama Wall-E (singkatan dari Waste Allocation Load Lifter-Earth Class).

Kehidupan robot ini pun mirip manusia. Siang hari bekerja, malam hari istirahat. Sebelum bekerja, Wall-E selalu mengisi energi dengan mengandalkan tenaga surya. Setelah itu, ia mengumpulkan sampah, lalu menekannya menjadi bongkahan-bongkahan kubus dan menyusunnya hingga menjulang.

Kecoa menjadi teman setia Wall-E. Sementara hiburan untuk Wall-E hanyalah kaset rekaman film usang yang menggambarkan dua orang kekasih saling bergandengan tangan. Bergandengan tangan menjadi impian Wall-E. Ia selalu berharap mendapatkannya.

Suatu ketika datanglah pesawat luar angkasa yang mengirimkan robot pencari tanaman. Robot ini disebut Eve (singkatan dari Extraterrestrial Vegetation Evaluator). Wall-E terkesima dengan robot putih bermata biru yang dapat menembakkan laser dari tangan itu.

Berbagai upaya dilakukan Wall-E untuk mendekati Eve. Ketika berhasil mendekati Eve, Wall-E memberikan tanaman yang ditemukannya saat mengumpulkan sampah. Eve, yang diprogram untuk mencari tanaman, langsung mengambil dan menyimpannya di dalam tubuh. Tak berapa lama, Eve seperti tak bernyawa. Hanya lampu indikator tanaman berwarna hijau yang menyala.

Wall-E merasa kehilangan Eve. Apalagi ketika Eve dijemput pesawat luar angkasa. Wall-E yang tak mau kehilangan Eve, membonceng kapal tersebut. Ternyata di pesawat Axiom, robot pembersih itu mendapat petualangan seru.

Tanaman yang dibawa Eve ternyata pertanda untuk mengembalikan seluruh manusia di pesawat Axiom ke bumi. Kapten kapal Axiom akhirnya memutuskan hal itu. Namun, keputusan kapten kapal ditentang robot pilot otomatis. Akhirnya, Wall-E dan Eve bekerja sama untuk membawa penumpang Axiom kembali ke bumi.

Di film yang ceritanya ditulis juga oleh Andrew Stanton ini sangat minim dialog. Setidaknya ini mengungkapkan bahwa sebenarnya robot memang tidak bisa berbicara seluwes manusia.

Karena itu, penggunaan gambar bergerak menjadi solusi untuk menyampaikan cerita film ini. Tindakan dan pengungkapan perasaan setiap tokoh di film ini juga ditampilkan dengan gambar bergerak. Untuk mendukung itu, film ini pun dibuat senyata mungkin meski Wall-E dikemas dalam bentuk animasi.

Andil Pixar Animation Studios untuk menciptakan film animasi senyata aslinya tak perlu diragukan. Buktinya, film animasi Finding Nemo, The Incredible, dan Cars menjadi pembuktian Pixar. Karena itu, tampilan Wall-E tak kalah dengan film-film tersebut.

Terlepas dari tampilan yang memesona, film yang layak ditonton anak-anak ini juga memberikan pesan mendalam. Setidaknya ada dua pesan yang disampaikan. Pertama, film ini menyinggung kehidupan manusia yang terlalu mengandalkan kemajuan teknologi. Dalam film ini, teknologi yang hebat membutakan manusia dari kehidupan nyata.

Kedua, sejalan dengan keadaan sekarang, bumi haruslah dijaga kelestariannya. Pesan ini tampak dari alur yang menceritakan pencarian tanaman. Jadi, selain menghibur, film ini mengajak penonton untuk melestarikan bumi.

Friday, August 08, 2008

Berpose di Ruang Foto

teman-teman yang ikut nimbrung kebanyakan dari bagian produksi. Tapi ada juga beberapa redaktur di sana.

Ini juga sama. Cuma beda posisi pengambilan gambar.

Tuesday, August 05, 2008

Indahnya Gerakan Tarian Jalanan

Judul Film : Step Up 2: The Street
Genre : Drama Musikal
Pemain : Briana Evigan, Robert Hoffman, Will Kemp, Cassie Ventura, Adam Sevani, Danielle Polanco, Black Thomas, Telisha Shaw
Sutradara : Jon M Chu
Produksi : Summit Entertainment dan Offspring Entertainment
Durasi : 98 menit


Sama seperti film sebelumnya, Step Up (2006), tarian dan musik hip hop masih menjadi daya pikat film besutan Jon M Chu ini. Meskipun begitu, cerita yang dihadirkan bukan kelanjutan dari film sebelumnya yang diarahkan Anne Fletcher.

Cerita yang disuguhkan kali ini mengisahkan kehidupan Andie West (Briana Evigan), wanita cantik yang terobsesi dengan tarian jalanan. Karena kecintaannya tersebut, ia bahkan tak melanjutkan sekolah. Sarah, yang menjadi orang tua angkat Andie, terpaksa mengusir Andie dari rumah karena hal itu.

Andie pun pergi ke klub malam. Di tempat tersebut, Andie bertemu Tyler Gage, sahabatnya yang jago menari. Mengetahui permasalahan Andie, Tyler menantang gadis tersebut beradu menari. Jika Tyler menang, Andie harus melanjutkan sekolah di Maryland School of Arts (MSA), sekolah dambaan para penari. Akhirnya, Andie diterima di sekolah tersebut.

Untuk menyalurkan kegemarannya, Andie bergabung dengan kelompok penari jalanan 410. Kelompok ini sedang menyiapkan diri untuk bertanding dalam perlombaan tarian jalanan yang disebut The Street. Maklum, gelar juara lima kali berturut-turut ingin mereka pertahankan.

Sayangnya, akibat kesibukan di sekolah, gadis yang biasa dipanggil ‘D’ itu selalu tak bisa ikut berlatih. Jikapun bisa datang, ia selalu terlambat. Karena hal itu, Andie dikeluarkan dari kelompok 410.

Sementara itu di sekolah, Andie bertemu Chase Collin (Robert Hoffman) pemuda tampan yang juga jago menari. Bersama Chase, ia pun membentuk kelompok menari. Anggotanya merupakan siswa MSA yang tak cocok dengan kurikulum sekolah. Jadinya, kelompok itu seperti kelompok buangan di sekolah. Bahkan, tarian yang mereka pertunjukan tidak disukai Blake Collins (Will Kemp), guru di MSA dan kakak Chase.

Blake makin tak menyukai grup dan tarian mereka begitu ruang studio di MSA dihancurkan kelompok 410. Blake yang mengetahui Andie pernah tergabung dalam 410 mengeluarkan Andie dari sekolah. Lagi-lagi kecintaan Andie terhadap tarian jalanan diuji.

Film berdurasi sekutar 98 menit ini kerap menayangkan gerakan-gerakan tarian yang cukup sedap dipandang. Dari awal hingga akhir film, tarian-tarian jalanan yang disuguhkan terus bermunculan dengan koreografi yang juga beragam.

Di awal film, tarian tersebut bahkan dilakukan di dalam kereta oleh beberapa orang yang menggunakan topeng. Sementara di akhir film, tarian tersebut disuguhkan di jalanan dalam guyuran hujan dengan disertai penerangan dan musik yang keluar dari sejumlah mobil. Jadi, adegan ini cukup memberikan nuansa lebih segar.

Tak hanya koreografi tarian yang variatif, musik pengiring tarian tersebut juga beragam. Musik yang diperdengarkan di antaranya hip hop, R&B, rap, dan beberapa musik lain dengan ritme nada yang energik sehingga memancing untuk bergoyang. Dengan begitu, roh film ini berasal dari dua unsur tersebut. Roh film ini makin kuat dengan tampilan gambar yang penuh warna.

Hal menarik lainnya berasal dari alur cerita yang digarap oleh Toni Ann Johnson dan Karen Barna. Cerita yang disajikan cukup ringan dan sederhana sehingga mudah untuk diikuti. Konfilk yang dialami para pemerannya juga ringan, tak terlalu dramatis dan rumit. Akibatnya, karakter tokohnya pun biasa saja.

Bumbu romantisme juga diselipkan di film ini. Hal itu terlihat ketika adegan Andie dan Chase berada di atas pohon dengan warna lampu yang cukup temaram. Sayangnya, kedekatan antara para anggota kelompok buatan Andie dan Chase kurang terasa. Akan tetapi, gerakan tarian jalanan dari kelompok Andie dan 410 serta disertai dentuman musik yang serasi cukup menghibur penonton.

Thursday, July 24, 2008

Mengungkap Kemisteriusan Lewat Cenayang

Judul Film : The X-Files: I Want To Believe
Genre : Science-Fiction
Pemain : David Duchovny, Gillian Anderson, Amanda Peet, Alvin Joiner, Billy Connolly
Sutradara : Chris Carter
Produksi : 20th Century Fox
Durasi : 106 menit


Kisah serial televisi The X Files kembali diangkat ke layar lebar. Kali ini berjudul The X Files: I Want to Believe. Sebelumnya, serial terhebat setelah Star Trek menurut majalah TV Guide ini pernah diputar di bioskop dengan judul The X Files: Fight the Future pada tahun 1998.

Cerita kali ini tak jauh berbeda dengan serial-serial sebelumnya yang berusaha mengungkap misteri melalui hal-hal yang tak dapat diterima akal sehat. Film ini berkisah tentang usaha Fox Mulder (David Duchovny) dan Dana Scully (Gillian Anderson) memecahkan misteri pembunuhan.

Alur film ini diawali dengan pencarian seorang agen FBI yang hilang di sebuah areal yang tertutup salju. Pencarian ini dibantu oleh Joseph Crissman (Billy Connolly), seorang pendeta yang bisa juga menjadi cenayang. Namun, mereka tidak berhasil menemukan agen tersebut.

Karena kesulitan menemukan agen FBI yang hilang, agen Mosley Drummy (Alvin Joiner) meminta bantuan Scully untuk membujuk Mulder. Mulder pun memenuhi permintaan para FBI. Pencarian kembali dilakukan.

Sayangnya, para agen FBI tidak percaya dengan usaha pencarian dengan mengandalkan ‘penglihatan’ paranormal itu. Lain halnya dengan Mulder. Dia sangat yakin usaha pencarian ini akan berhasil. Dia pun mengikuti setiap petunjuk yang diberikan Joseph.

Di tengah usaha pencarian agen FBI yang hilang, terjadi pula pembunuhan lain. Menurut Joseph, kejadian tersebut mempunyai keterkaitan dengan hilangnya agen FBI. Joseph juga memastikan bahwa agen FBI yang hilang itu masih hidup.

Sementara itu, Scully yang berprofesi menjadi dokter lebih mementingkan pasiennya yang mengalami kelainan di otak. Mulder yang membutuhkan bantuan Scully terus membujuk sang dokter agar tetap terlibat dalam usaha pencarian ini. Namun, itu tidak berhasil. Meskipun begitu, hati Scully tetap ingin berusaha membantu para agen FBI dan Mulder. Apalagi, Joseph pernah mengatakan kepada Scully untuk tidak menyerah.

Film yang masih mempertahankan akting David Duchovny dan Gillian Anderson cukup berhasil mengobati kerinduan penonton pada serial The X Files. Maklum, sejak 2002 serial yang selalu memberikan misteri ini telah berhenti produksi.

Film ini seolah-olah juga menjadi reuni antara Duchovny dan Anderson. Hal tersebut bahkan digambarkan ke dalam film ketika Scully membujuk Mulder untuk membantu FBI. Wajah berewok Mulder menandakan bahwa mereka sepertinya sudah lama tidak bertemu.

Film berdurasi 106 menit ini tetap mempertahankan kekhasan serial The X Files, yaitu sisi kemisteriusan. Sejak awal film, penonton langsung disuguhi inti permasalahan dari jalinan cerita yang dibuat oleh Chris Carter dan Frank Spotnitz. Namun, setiap adegan tersebut masih menyimpan teka-teki.

Melalui hal itu, penonton terus digiring untuk terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Pemberian petunjuk-petunjuk baru menguatkan kemisteriusan film ini. Bahkan, penjabaran mengenai hal ini ditampilkan sewajarnya oleh Carter.

Di samping itu, pemberian sedikit cerita mengenai dedikasi Scully yang berprofesi sebagai dokter memberikan nuansa lain. Apalagi film ini juga diselipkan sedikit pertikaian dan masih dibumbui keromantisan antara Mulder dan Scully. Hasilnya, penonton tidak melulu dihadapkan pada kemisteriusan cerita ini, tapi ada hal lain yang tak kalah menarik.

Sayangnya, ujung cerita film yang diproduksi 20th Century Fox ini tak sedramatis yang dibayangkan. Akhir film dibuat datar, tak ada ketegangan yang cukup berarti. Sepertinya, Chris Carter masih ingin mengingatkan penonton bahwa film ini memang berasal dari sebuah film serial di televisi dan telah memenangkan beberapa penghargaan.

Monday, July 14, 2008

Mobil-Mobil Hijau di IIMS

Pergelaran akbar otomotif Tanah Air, Indonesia International Motor Show (IIMS), kembali hadir untuk ke-16 kalinya. Ajang yang diselenggarakan oleh Gaikindo ini diadakan pada 11–20 Juli 2008 di Jakarta Convention Center. Guna mendukung pergelaran tersebut, sejumlah pabrikan berlomba untuk memamerkan kendaraan-kendaraan andalannya.

Ajang yang mendapat dukungan penuh dari The International Organization Motor Vehicle Manufactures (OICA) ini mengambil tema ‘Advanced Motoring, Hi-Quality Living’. Tema ini merefleksikan komitmen industri otomotif nasional untuk selalu mengedepankan perkembangan produk yang inovatif dan ramah lingkungan serta semakin aman dan nyaman ketika dikendarai. Apalagi, hal itu sejalan dengan konferensi perubahan iklim atau United Nations Framework for Climate Change Conference (UNFCCC) yang diadakan di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, di ajang tahunan ini beberapa pabrikan tak hanya akan memamerkan kendaraan andalannya, tetapi juga mobil-mobil ramah lingkungan. Sejumlah pabrikan tersebut di antaranya, Toyota, Mitsubishi, dan Honda. Namun, tak menutup kemungkinan pabrikan lain juga akan mengusung ‘mobil hijaunya’.

Toyota i-Real dan FT-HS

Toyota, yang getol membuat mobil ramah lingkungan, untuk IIMS kali ini berencana memboyong i-Real. Kendaraan lanjutan dari mobil i-Unit dan i-Swing ini merupakan wujud keseriusan Toyota dalam mengembangkan teknologi personal mobility. Bahkan, pihak Toyota mengklaim kendaraan ini sudah mendekati tahap untuk dijual secara komersial.

i-Real merupakan mobil konsep tiga roda keluaran Toyota yang memiliki dua tingkat kecepatan berbeda, yaitu low speed dan high speed. Untuk bermanuver, kendaraan pribadi ini dilengkapi kontrol operasi di salah satu bagian arm rest.

Saat dilajukan pada kecepatan rendah, jarak sumbu roda i-Real akan memendek sehingga bisa bergerak natural. Sebaliknya, pada kecepatan tinggi, wheelbase akan menjadi panjang, tingginya turun, dan stabilitas meningkat karena titik pusat gravitasi juga turun. Dengan begitu, kinerja pengendalian lebih baik.

Ringkasnya, pada kecepatan rendah dimensi mobil ini berukuran panjang 995 mm, lebar 700 mm, tinggi 1.430 mm dengan wheelbase 485 mm. Adapun pada kecepatan tinggi dimensi i-Real menjadi 1.510 mm x 700 mm x 1.125 mm dengan jarak sumbu roda 1.040 mm.

Kelebihan i-Real ketimbang pendahulunya terlihat pada material bodi yang dipakai. Bodi i-Real menggunakan plastik karbon fiber ringan. Bahan material kendaraan ini bahkan menggunakan kenaf, salah satu jenis tanaman yang berasal dari Indonesia.

Selain itu, karena hanya dapat digunakan oleh satu orang, kendaraan ini bisa berakselarasi dengan para pejalan kaki di pedestrian. Untuk menunjang keamanan, mobil ini dilengkapi sensor detektor tabrakan. Pengemudi diperingatkan lewat suara dan getaran dan sekaligus memperingatkan orang lain lewat cahaya dan suara.

Kendaraan hijau dari Toyota yang lain yaitu, FT-HS. FT-HS atau Future Toyota Hybrid Sport, menurut perancang konsep mobil FT-HS Chiharu Tamura, serasa mobil Ferrari, tapi dengan bahan bakar seirit mobil dengan mesin empat silinder.

Untuk menunjang sebagai mobil sport, kendaraan ini dipersenjatai mesin V6 3.5 liter. Mesin ini menggabungkan antara mesin bensin dan motor elektrik. Mesin ini juga dilengkapi dengan Toyota Hybrid Synergy Drive sehingga mampu menghasilkan tenaga hingga 400 tenaga kuda. Untuk berakselerasi dari 0 hingga 100 km/jam hanya dibutuhkan waktu empat detik.

Agar dapat berakselarasi di jalanan, kendaraan ini menggunakan carbon-fiber wheels yang dibalut ban berdiameter besar dan lebar yaitu 245/35R21 untuk di depan dan 285/30R21 di belakang. Mobil ini juga menggunakan konfigurasi kursi 2 + 2.

Di samping kendaraan tersebut, Toyota juga masih memiliki mobil hijaunya yang lain. Mobil itu di antaranya Prius Hybrid, 1/X, FT-MV, Hi-CT, RiN, iQ Concept, serta Crown Hybrid Concept. Namun, mobil-mobil ini tidak dipamerkan pada IIMS 2008.

Mitsubishi i-MiEV

Pabrikan kendaraan Mitsubishi juga tak mau kalah dengan pesaingnya, Toyota, dalam menciptakan kendaraan ramah lingkungan. Pada ajang otomotif terbesar di Indonesia ini, Mitsubishi akan memamerkan mobil listrik ‘i’ Mitsubishi innovative Electric Vehicle atau i-MiEV.

Kendaraan hijau dari Mitsubishi ini sudah lama diperkenalkan. Tepatnya pada tahun 2006 di ajang 22nd International Battery, Hybrid and Fuel Cell Electric Vehicle Symposium & Expo yang diselenggarakan di Yokohama, Jepang. Namun, saat itu masih berupa mobil konsep.

Meskipun begitu, Mitsubishi Motors Corporation (MMC) tetap akan memasarkan mobil mungil ini pada tahun depan di Jepang. Awalnya, mobil ini akan mulai dipasarkan tahun 2010. Namun, jadwal itu dimajukan. Itu dilakukan sebagai bagian dari rencana mengurangi efek pemanasan global dan ketergantungan terhadap minyak.

i-MiEV yang digerakkan dengan motor listrik memiliki kekuatan sebesar 47 kW atau setara dengan 64 PS. Sementara putaran torsi maksimalnya 180 Nm pada 8.500 rpm. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai sekitar 130 km/jam.

Kendaraan ini mengandalkan tenaga dari baterai lithium ion (Li-ion) yang disimpan di lantai kendaraan. Baterai ini tentu berkapasitas tinggi. Setiap baterai yang terpasang memiliki 22 modul. Adapun setiap modul mempunyai empat sel.

Tenaga yang dikeluarkan baterai ini sekitar 16 kWh. Untuk mendapatkan tenaga sebesar itu dapat dilakukan pengisian dengan tiga cara, yakni menggunakan colokan 100 Volt, 200 Volt, atau quick charge 200 Volt. Untuk colokan rumah, terdapat di kanan belakang mobil, sedangkan colokan quick charge ada di kiri belakang mobil.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai bervariasi. Bila menggunakan colokan 100 Volt, dibutuhkan sekitar 14 jam. Sementara untuk 200 Volt, diperlukan 7 jam, sedangkan dengan quick charge selama 30 menit atau baru 80% dari kapasitas penuh. Namun, itu sudah mencukupi untuk melajukan kendaraan. Jika tenaga diisi penuh, baterai ini dapat menggerakkan mobil sejauh 160 km tanpa mengoperasikan penyejuk udara.

Mobil mungil nan ramah ini pernah diikutsertakan pada konferensi perubahan iklim di Nusa Dua, Bali, akhir tahun lalu. Di samping itu, mobil ini juga digunakan pada acara pertemuan negara-negara G8 atau ‘G8 Hokkaido Toyako Summit’ yang akan membahas isu pemanasan global. Acara tersebut dilaksanankan di Toyako, Hokkaido, Jepang, pada 7–9 Juli 2008.

Honda Civic Hybrid

Seperti tahun lalu pada ajang IIMS ke-16, kali ini PT Honda Prospect Motor (PT HPM) masih memajang Honda Civic Hybrid. Kendaraan ini menggunakan tenaga motor elektrik sebagai pendukung mesin berbahan bakar bensin. Dengan kata lain, mesin berbahan bakar bensin sebagai sumber tenaga utama, sedangkan motor elektrik sebagai alat untuk menghasilkan efisiensi bahan bakar dan emisi yang bersih.

Sedan ramah lingkungan ini menampilkan perpaduan mesin i-DSI dan 3-stage i-VTEC 1.3 liter. Mesin i-DSI memiliki empat silinder yang menggunakan dua busi di tiap silinder. Dengan begitu, hasil pembakaran menjadi lebih sempurna. Adapun mesin 3-stage i-VTEC dapat mengatur tiga tahapan valve timing (low-rpm, high-rpm, dan cylinder idle mode) sesuai dengan kondisi berkendara.

Kedua mesin ini juga dipadukan dengan sistem IMA (Integrated Motor Assist) yang telah disempurnakan. Fungsi mesin ini untuk mendapatkan tenaga lebih besar 20% dan konsumsi bahan bakar lebih ekonomis 5% dibanding pendahulunya.

Pada kecepatan rendah sistem mesin ini dapat menghasilkan torsi setara dengan mesin bensin berkapasitas 1.8 liter. Selain itu, sistem ini mampu menekan penggunaan bahan bakar hingga 31.0 km/l. Sistem ini juga menghasilkan emisi yang cukup rendah, yaitu tingkat emisi 75% di bawah standar batas emisi yang ditetapkan pemerintah Jepang untuk tahun 2005.

Mesin bensin yang dibenamkan di Civic Hybrid mampu menghasilkan tenaga sebesar 70 kW (95 PS) pada 6.000 rpm dengan torsi 123 Nm (12,5 kgm) pada 4.500 rpm. Sementara mesin elektriknya dapat menyemburkan tenaga hingga 15 kW (20 PS) pada 2.000 rpm dengan torsi 103 Nm (10,5 kgm) pada 0–1.160 rpm. Jadi, sedan hijau ini memiliki total tenaga sebesar 85 kW (115 PS) dengan torsi 167 Nm (17,0 kgm).

Tahun lalu, PT HPM bahkan menyewakan dan menjual kendaraan ini. Biaya sewa yang dikenakan sebesar Rp 9 juta untuk pemakaian selama sebulan untuk jangka waktu 1-3 tahun
dengan semua biaya perawatan ditanggung
PT HPM. Sementara harga yang dipatok untuk sedan hijau ini sekitar Rp 490 juta untuk wilayah Jakarta.