Showing posts with label drama komedi. Show all posts
Showing posts with label drama komedi. Show all posts

Monday, February 23, 2009

Melihat Cinta Pemuda Buta

Judul Film : Blind Dating
Genre : Komedi romantis
Pemain : Chris Pine, Eddie Kaye Thomas, Stephen Tobolowsky, Jane Seymour, Anjali Jay, Sendhil Ramamurthy
Sutradara : James Keach
Produksi : Catfish Production
Durasi : 95 menit
Rating : 2,5/5


Film ini sebetulnya sudah ditayangkan pertama kali pada tiga tahun lalu. Akan tetapi, film yang mengisahkan tema klasik tentang percintaan ini baru masuk ke Indonesia pada Tahun Kerbau. Meski begitu, tidak ada salahnya untuk menyaksikan film ini di waktu senggang.

Film ini diawali dari masa kecil Danny Wildasakee (Chris Pine) yang buta. Kendati mengalami tunanetra, Danny diperlakukan layaknya manusia normal oleh orang tua dan adiknya. Bahkan, Danny diajarkan main softball oleh ayahnya. Sementara ibunya amat mengawasi tindakan Danny sebagai wujud penebusan kesalahan karena melahirkan Danny secara prematur. Apalagi, Danny senang berjalan tanpa dibantu tongkat.

Hanya kakak Danny, Larry (Eddie Kaye Thomas), yang sering menggoda dan memperlakukan Danny tidak baik. Meski begitu, sebetulnya, Larry amat menyayangi Danny. Apalagi, ketika mereka beranjak dewasa. Larry membantu Danny untuk mencarikan wanita sebagai pacarnya. Apalagi, Danny cukup menawan. Namun, karena sifat jahilnya, Larry selalu memperkenalkan wanita-wanita yang tidak baik kepada Danny.

Suatu ketika Danny mendapatkan telepon dari dokter Perkins (Stephen Tobolowsky). Kabar baik datang. Danny kemungkinan dapat melihat dengan cara operasi. Apalagi, psikolog Evans (Jane Seymour) memberikan rujukan bahwa mental Danny amat siap. Awalnya, Danny ragu karena dijadikan relawan untuk operasi mata teknik baru.

Danny akhirnya mendatangi rumah sakit tempat dokter Perkins bekerja. Di situ, dia bertemu Leeza Raja (Anjali Jay), pekerja bagian administrasi rumah sakit yang keturunan India. Karena sering mendatangi rumah sakit tersebut untuk menjalani beberapa tes sebelum operasi, Danny pun sering bertemu Leeza. Mereka bahkan sempat jalan bareng. Dan ternyata, Danny menyukai Leezaa karena suara lembut dan keramahannya.

Namun, cinta mereka tidak semulus yang diharapkan. Sebab, Lisa sudah dijodohkan dengan Arvind (Sendhil Ramamurthy) yang sama-sama keturunan India. Lisa tidak mengatakan hal itu kepada Danny. Begitu mengetahui perjodohan tersebut, Danny amat terpukul dan merasa orang tunanetra tak pantas dengan manusia normal. Operasi mata pun terancam batal.

Dua Tema
Tema yang diangkat di film ini sebetulnya sederhana, yaitu tentang percintaan sepasang manusia yang berbeda kultur dan kebiasaan. Bahkan tema tontonan ini mirip dengan film-film Bollywood bertema cinta beda kasta. Dalam film ini, kasta tersebut diganti dengan budaya. Jadinya, kisah cinta budaya Barat dengan India yang kental.

Kendati kisah cinta di film ini tidak seekstrem tontonan Bollywood, justru hal itu membuat alur film ini lebih terasa alami dan tidak terkesan dibuat-buat. Apalagi, alur film ini juga terasa lambat. Jadi, menambah kesan natural.

Namun, dari penulisan cerita, film ini terkesan memberikan dua tema yang berbeda. Pertama, soal kisah cinta Danny dengan Leeza. Kedua, tentang operasi mata yang dilakukan Danny. Sejak awal, film ini belum jelas mana tema utamanya. Sebab, di awal film dikisahkan mengenai operasi yang akan dilakukan Danny. Hal itu digambarkan ketika keluarga Danny mendapatkan kabar dari dokter Perkins.

Selanjutnya, cerita dibelokkan tentang kehidupan cinta Danny, khususnya ketika Larry menakuti-nakuti Danny yang belum memiliki seorang kekasih. Padahal, Danny termasuk pria tampan meski memiliki kelainan. Bahkan, ketika berkonsultasi dengan dokter Evans, Danny sempat bilang, “Saya seperti terperangkap di tubuh pria berumur 22 tahun, tapi berpikiran seperti anak 12 tahun saat ditanya tentang wanita.”

Akibat belum jelasnya masalah yang dihadapi Danny membuat penonton bingung. Meski akhirnya, cerita lebih menekankan tentang jalinan kisah cinta pria tunanetra tersebut.

Sayang, jalinan kisah cinta mereka tidak digarap dengan apik. Sebab, banyak adegan yang lebih menonjolkan upaya Danny mencari seorang kekasih dengan bantuan Larry. Danny justru lebih banyak bertemu wanita yang hanya ingin berhubungan intim. Jadinya, perjuangan Danny mencari cinta tak kentara. Kecuali, di ujung film yang menggambarkan perjuangan Danny untuk melihat Leeza.

Wednesday, January 28, 2009

Kisah Perebutan Tempat Nikah Dua Sahabat

Judul Film : Bride Wars
Genre : Drama komedi
Pemain : Anna Hathaway, Kate Hudson, Bryan Greenberg, Chris Pratt, Steve Howey, Candice Bergen
Sutradara : Gary Winick
Produksi : Fox 2000 Pictures
Durasi : 96 menit
Rating : 3/5

Kekuatan persahabatan menjadi nilai jual dalam film ini. Meski pada pertengahan cerita dua bintang utama saling berselisih pendapat karena memperebutkan tempat dan waktu pernikahan, akhirnya mereka saling memahami satu sama lain.

Emma (Anna Hathaway) dan Liv (Kate Hudson) menjadi bintang utama dalam film ini. Emma dan Liv sudah lama bersahabat sejak kecil. Mereka memiliki impian yang sama, yaitu menikah pada bulan Juni di The Plaza, gedung mewah yang amat terkenal dan bergengsi untuk melangsungkan pernikahan.

Masalah mulai berkembang ketika Emma dilamar oleh kekasihnya, Fletcher (Chris Pratt). Padahal, selama ini Liv selalu mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia akan dilamar oleh Nate (Bryan Greenberg) setelah menemukan kotak cincin di lemari Nate.

Liv yang malu akhirnya meminta Nate untuk segera melamarnya. Nate pun melamar Liv. Karena sama-sama dilamar dan pernikahan segera diselenggarakan, Emma dan Liv mendatangi perencana pernikahan Marion St Claire (Candice Bergen). Mereka meminta pernikahannya dilakukan di The Plaza pada bulan Juni dan tidak bersamaan.

Awalnya ada tiga hari yang kosong untuk menyelenggarakan pernikahan di The Plaza. Namun, karena kesalahan administrasi karyawan Marion, hanya ada satu hari yang tersisa. Emma dan Liv pun kebingungan karena mereka bertekad ingin nikah tempat tersebut pada bulan Juni. Apalagi, Emma ingin hadir di hari bersejarah sahabatnya itu. begitu pula Liv.

Akhirnya mereka membujuk calon pengantin yang mengambil jatah hari pernikahan Emma dan Liv. Upaya itu tidak berhasil. Mereka pun memutuskan bahwa salah satu dari mereka harus ada yang mengalah untuk menikah di hari yang lain dan tidak di The Plaza.

Sayangnya, keduanya tidak ada yang mau mengalah. Mereka pun bertengkar. Upaya-upaya untuk menggagalkan pernikahan dilakukan kedua belah pihak. Misalnya, membuat biru rambut Liv, mencokelatkan warna kulit Emma, hingga membeberkan rahasia besar Emma.

Kendati tema dalam film ini sudah umum, Greg DePaul dan Casey Wilson yang menulis skenario berdurasi 96 menit ini cukup menghibur. Apalagi, dalam perebutan tempat dan waktu pernikahan Emma dan Liv disodori pula adegan konyol sebagai bumbu agar film ini menarik. Dengan begitu, tema film persahabatan yang diangkat tidak basi. Apalagi dikemas pada saat acara pernikahan yang sebetulnya amat sakral.

Dari sisi penceritaan pun, kedua penulis skenario ini mengembangkan alur cerita secara konvensional. Artinya, permasalahan dalam film ini dibuat sesuai alur yang semestinya yang dimulai dengan munculnya masalah, kemudian masalah makin berkembang hingga terjadi klimaks menjelang akhir film. Melalui alur demikian, tema film ini dapat disampaikan ke hati penonton.

Perbedaan karakter kedua sahabat yang akan menikah ini juga digambarkan dengan baik oleh sutradara Gary Winick. Dalam film ini, Emma yang menjadi guru, memiliki kepribadian yang selalu bersimpati terhadap orang lain. Emma lebih memikirkan orang lain dibandingkan dirinya. Adapun Liv kebalikan dari Emma. Dia tak mau memikirkan orang lain. Namun, karena perselisihan tersebut, baik Liv maupun Emma justru menyadari bahwa persahabatan itu penting bagi mereka. Liv juga akan mengubah sifatnya untuk lebih peduli lagi terhadap orang lain.

Sayangnya, di film ada sedikit ganjalan yang tak enak di akhir cerita. Setelah rahasia besarnya terbongkar, Emma tidak jadi menikah dengan Fletcher. Emma ternyata menikah dengan adik Liv, Daniel (Steve Howey), setelah beberapa lama berselang. Kendati sejak awal cerita Daniel kerap muncul dan terlihat akrab dengan sahabat kakaknya, itu tidak menimbulkan ketertarikan antara Emma dan Daniel. Tidak ada chemistry yang menunjukkan kepada penonton bahwa keduanya tertarik.

Monday, January 12, 2009

Komedi dengan Permasalahan yang Ruwet

Judul Film : Burn After Reading
Genre : Drama komedi
Pemain : George Clooney, Brad Pitt, John Malkovich, Frances McDormand, Tilda Swinton, Richard Jenkins, Elizabeth Marvel
Sutradara : Joel Coen dan Ethan Coen
Produksi : Focus Features
Durasi : 96 menit
Rating : 4/5


Inilah film komedi yang membuat penonton harus berpikir. Masalah yang dialami setiap karakter di film ini amat ditonjolkan. Akibatnya permasalahan di film ini terlihat kompleks.

Film ini diawali dari kisah Osbourne Cox (John Malkovich), anggota CIA yang dipecat karena dianggap banyak minum. Dia lalu berencana membuat buku tentang intelijen berdasarkan pengalamannya. Sementara sang istri, Katie Cox (Tilda Swinton), rupanya berselingkuh dengan Harry Pfarrer (George Clooney) yang mengaku sebagai mantan petugas pengawal presiden. Padahal, dia bekerja sebagai petugas administrasi di Departemen Keuangan.

Sementara itu, Linda Litzke, instruktur senam di pusat kebugaran, berkeinginan membuat dirinya terlihat lebih ramping dengan cara operasi. Maklum, umurnya mulai bertambah, tetapi dia belum dapat pasangan. Karena tidak memiliki biaya operasi, Linda bingung untuk mendapatkan uang.

Akhirnya, salah satu pegawai di pusat kebugaran tersebut mendapatkan CD yang berisi dokumen intelijen milik Osbourne Cox. Kemudian, Linda bersama Chad (Brad Pitt) menghubungi Osbourne untuk meminta imbalan karena telah menemukan CD tersebut. Osbourne mengira CD itu berisi data untuk bukunya.

Mereka akhirnya bertemu. Sayang, kesepakatan tidak tercapai. Linda pun kecewa. Tetapi, Linda dan Chad tak hilang akal. CD tersebut akhirnya diserahkan ke kedutaan besar Rusia. Lagi-lagi, demi mendapatkan uang untuk biaya operasi.

Untuk mendapatkan dokumen rahasia lainnya, Linda menyuruh Chad mencarinya di rumah Osbourne. Saat berhasil masuk, Chad malah tewas tertembak oleh Harry yang menginap di situ. Kebetulan, istri Harry, Sandy Pfarrer (Elizabeth Marvel), sedang pergi untuk acara peluncuran buku. Harry pun merasa takut. Apalagi, ada orang yang sering memata-matainya.

Selanjutnya, Osbourne malah dimata-matai oleh agen CIA karena diduga menjadi pembunuhnya. Sementara Linda beserta atasannya, Ted Treffon (Richard Jenkins), bingung atas hilangnya Chad.

Ruwet
Setidaknya ada tujuh tokoh yang memunculkan keruwetan dalam film ini. Setiap tokoh memiliki hasrat dan keinginan yang berbeda. Misalnya, Ted yang diam-diam ternyata menyukai Linda, Sandy yang juga berselingkuh dan mengirim mata-mata untuk mengawasi tindakan Harry, serta Harry yang memang senang berselingkuh.

Namun, perbedaan hasrat dan keinginan itu dirangkai apik oleh Coen bersaudara sehingga menjadi jalinan cerita yang mengejutkan dan tak terduga. Akibatnya, penonton tak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Penonton hanya diajak untuk mengikuti alur cerita yang skenarionya juga ditulis oleh Joel dan Ethan Coen. Inilah daya tarik film dari sutradara yang juga mengarahkan film No Country for Old Man ini.

Ada daya tarik lain yang bisa dilihat dari film ini, yaitu mengenai pesan yang ingin disampaikan. Coen secara tersirat menyampaikan bahwa sebuah rahasia jika berada di tangan yang salah, akibatnya akan fatal. Di film ini, Chad dan Linda menggambarkan orang yang tak pantas itu. Di tangan mereka, rahasia malah diperdagangkan ke negara lain. Mereka mengkhianati negaranya. Mereka juga yang memperkeruh keruwetan di film ini. Apalagi, tokoh-tokoh di film ini juga sering melontarkan olok-olok dengan nada tinggi. Jadinya, keruwetan makin bertambah.

Untuk para pemainnya, akting mereka patut diacungi jempol. Karakter yang mereka bawakan dapat membangun jalinan cerita. Misalnya, Brad Pitt yang tampil agak bodoh, tapi ingin terlihat modis. Namun, hasilnya malah terlihat norak, meski itu pas untuknya. Clooney juga demikian. Tampil sebagai orang yang pandai memikat wanita, tapi sebetulnya hanya mengincar urusan ranjang.

Terlepas dari itu, di akhir film, Joel dan Ethan Coen akan memberikan kejutan bagi penonton.