Showing posts with label drama. Show all posts
Showing posts with label drama. Show all posts

Friday, March 06, 2009

Kisah Wanita Gila Belanja

Judul Film : Confession of Shopaholic
Genre : Drama
Pemain : Isla Fisher, Hugh Dancy, Krysten Ritter, Joan Cusack, John Goodman, Robert Stanton
Sutradara : P.J. Hogan
Produksi : Touchstone Pictures
Durasi : 104 menit
Rating : 3/5


Perempuan terkadang diidentikkan dengan gemar berbelanja. Bahkan, karena amat senang belanja, wanita menjadi mudah tergiur dengan barang baru. Apalagi, dari merek-merek terkenal seperti Prada, Gucci, Macy's, Barneys, Saks, dan lainnya. Belanja pun menjadi hobi. Akibatnya, pengeluaran menjadi tidak terkontrol. Apalagi, kartu kredit dianggap bak dewa penolong untuk berbelanja oleh mereka.

Gambaran tersebut menempel pada diri Rebecca Bloomwood (Isla Fisher). Rebecca yang amat gemar berbelanja tiba-tiba harus berurusan dengan tagihan kartu kredit mencapai jutaan dolar. Bukannya melunasinya, Rebecca malah terus berbelanja. Sampai akhirnya, tempat Rebecca bekerja harus tutup. Rebecca pun tak ada pemasukan untuk membayar semua tagihan. Dia kebingungan. Akan tetapi, kegemaran berbelanja tak pernah surut, meski kartu kredit yang dimilikinya sudah diblokir.

Harapan Rebecca adalah bekerja menjadi jurnalis di majalah fesyen Aletta. Namun, karena lowongan itu sudah terisi, dia ikut wawancara di Successful Saving, sebuah majalah keuangan yang mengajak masyarakat berhemat. Ini bertentangan dengan hatinya yang senang berbelanja dan punya tunggakan tagihan.

Karena membutuhkan pekerjaan, Rebecca akhirnya diterima setelah mengirim sebuah artikel keuangan. Luke Brandon (Hugh Dancy), pemimpin majalah tersebut meminta Rebecca menulis artikel sejenis. Susah payah itu dilakukan Rebecca. Hingga akhirnya tulisan Rebecca digemari banyak orang, termasuk pemilik saham majalah Successful Saving. Dia pun dikenal dengan nama pena ‘wanita berselendang hijau’.

Kesuksesannya tersebut membawa Rebecca diwawancarai di sebuah stasiun televisi. Namun, saat itulah kedok Rebecca terbongkar. Semua tulisannya mengenai cara berhemat tak sejalan dengan gaya hidupnya yang senang menghabiskan uang dengan barang-barang yang sebetulnya tak dibutuhkan. Adalah petugas debt collector Derek Smeath (Robert Stanton) yang membongkar kepalsuan Rebecca.

Terbongkarnya kasus tersebut membuat hubungan dengan Luke Brandon hancur. Bahkan, majalah tersebut ditutup. Persahabatan dengan Suze (Krysten Ritter) juga berantakan. Penyebabnya, baju pengiring pengantin yang akan dikenakan Rebecca pada pernikahan Suze malah diberikan kepada orang lain.

Bijak
Film yang penuh tampilan glamor dari Rebecca ini sebetulnya menyentil gaya hidup kaum wanita. Wanita yang senang berbelanja bahkan hilang kontrol dalam penggunaan kartu kredit disinggung dalam film ini. Dengan demikian, film ini mengajak kaum hawa agar lebih bijak dalam menggunakan kartu kredit.

Penyampaian pesan tersebut disodorkan kepada penonton dengan amat manis dari rentetan cerita yang menghibur. Penyelipan adegan-adegan konyol dari Rebecca seperti menghancurkan es yang di dalamnya ada kartu kredit, naik ke atas meja hanya untuk mencegah Luke menerima telepon dari Derek Smeath, serta tidur di bawah kereta dorong untuk mengambil surat membuat penonton tertawa lepas.

Adegan romantis antara Rebecca dan Luke menambah hiburan tersendiri bagi penonton. Meski begitu, adegan tersebut terkesan klise bagi kebanyakan film-film Hollywood dengan genre yang sama. Sepertinya, film ini akan hambar jika wajah cantik Isla Fisher dan tampannya Hugh Dancy tak menjadi pasangan. Hangatnya hubungan keluarga Blomwood juga memberikan nilai tambah dalam film yang sebetulnya berasal dari novel Confessions of Shopaholic karya penulis Inggris Sophie Kinsella.

Pemberian sentuhan musik latar di berbagai adegan juga terasa pas dengan suasana yang dialami Rebecca. Jadinya, perasaan riang, sedih, romantis, putus asa, dan lainnya terbantu dengan hadirnya musik latar yang menyatu dengan adegan. Apalagi, penggunaan manekin yang seolah-olah hidup dan berbicara untuk membujuk Rebecca belanja juga menjadi sesuatu yang unik di film ini.

Akhirnya, di pengujung film Rebecca menyadari bahwa lebih baik memiliki sesuatu yang benar-benar disenangi tanpa harus ditagih. Jadi, sudah bijakkah penggunaan kartu kredit Anda?

Wednesday, February 18, 2009

Menyimak Cerita Cinta Beda Generasi

Judul Film : The Reader
Genre : Drama
Pemain : Kate Winslet, David Kross, Ralph Fiennes, Jeanette Hain
Sutradara : Stephen Daldry
Produksi : Mirage Enterprises
Durasi : 124 menit
Rating : 4/5

Cinta memang tidak bisa ditebak. Dia juga bisa hadir tanpa terduga dan kepada siapa cinta itu menyapa. Mungkin seperti itulah perjalanan cinta antara Hannah Schmitz dan Michael Berg yang berbeda usia. Usia Hannah dua kali lebih tua dari Michael.

Perjumpaan mereka terjadi di tahun 1958. Sepulang dari sekolah dan baru turun dari trem, Michael remaja (David Kross) muntah karena sakit. Melihat kejadian itu, Hannah Schmitz (Kate Winslet) membersihkan muntahan Michael dengan menyiramnya. Selanjutnya, Hannah mengantarkan hingga ke jalan menuju rumah Michael.

Setelah sembuh, Michael mendatangi rumah Hannah untuk mengucapkan terima kasih. Selanjutnya, mereka makin sering bertemu. Bahkan, mereka juga terlibat hubungan yang sangat intim. Sering pula Michael membacakan berbagai cerita dari buku The Odyssey, 'The Adventures of Huckleberry Finn, dan The Lady with The Little Dog.

Hannah rupanya menyenangi cerita-cerita yang dibacakan Michael. Dia juga lebih senang dibacakan daripada membaca sendiri buku-buku yang diberikan Michael.

Hubungan cinta mereka akhirnya kandas setelah Hannah mendapatkan promosi pekerjaan. Sayangnya, Hannah tidak memberitahukan hal ini kepada Michael. Hannah malah menghilang. Michael yang sedang dilanda cinta terkejut dan merasa kehilangan.

Delapan tahun kemudian, Michael yang kuliah di jurusan hukum Universitas Heidelberg melakukan observasi mengenai kejahatan perang yang dilakukan Nazi. Kejahatan itu berupa pembakaran gereja yang di dalamnya terdapat 300 orang. Tanpa terduga, Hannah menjadi salah satu terdakwa dalam persidangan tersebut. Michael terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya, Hannah dipenjara. Untuk menghibur Hannah, Michael dewasa (Ralp Fiennes) mengirimi rekaman cerita-cerita dari berbagai buku yang dibacanya. Hannah cukup terhibur dan mulai belajar menulis serta berkirim surat. Sampai akhirnya mati bunuh diri karena tidak ada yang menolongnya ketika akan bebas.

Kepedulian dan Kemauan Belajar
Film yang berlatar saat akhir perang dunia II di salah satu wilayah di Jerman ini memberikan pelajaran yang cukup baik kepada penonton. Terutama soal kepedulian dan kemauan untuk maju. Hal ini tampak dari tokoh Hannah.

Setelah beberapa kali dikirimi kaset cerita, Hannah mulai belajar untuk membaca dan menulis. Keinginan tersebut amat kuat karena dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Michael. Karena baru belajar, hanya beberapa kalimat yang berhasil ditulis. Misalnya ucapan terima kasih. Bentuk tulisannya pun masih belum rapi. Namun, itu menyiratkan bahwa cinta bisa mendorong seseorang untuk belajar.

Ketidakmampuan Hannah memahami bahasa mulai terkuak ketika adegan persidangan. Saat itu Hannah diminta untuk menuliskan nama yang bertanggung jawab atas pembakaran gereja. Ternyata dia tidak bisa menulis. Michael pun baru menyadari bahwa Hannah buta huruf. Gambar pun memperlihatkan beberapa kejadian masa lalu yang menyuguhkan keengganan Hannah untuk membaca buku.

Sementara soal kepedulian terlihat melalui surat wasiat Hannah kepada Michael. Dalam surat itu, Hannah berpesan untuk memberikan sedikit uang kepada yayasan yang memerangi buta huruf dan kepada salah satu anak korban peristiwa gereja. Adegan ini seolah-olah menyampaikan pesan bahwa pendidikan itu amatlah penting.

Dua pesan tersebut setidaknya mulai muncul di akhir film. Sebelum selesai menonton film ini, penonton akan kesulitan untuk mengetahui pesan di balik kisah cinta beda generasi ini. Apalagi, film ini menggunakan alur maju mundur yang membawa penonton pada kehidupan Michael remaja dan tua yang telah memiliki seorang anak.

Terlepas dari itu, film ini agak membuat sebagian penonton agak jengah dengan beberapa adegan panas antara Michael dan Hannah. Beberapa kali hal itu ditayangkan hanya untuk menggambarkan keintiman mereka.

Namun begitu, akting Kate Winslet di film ini amat apik. Dia tampil total untuk menggambarkan Hannah yang kesepian dan hidup tanpa ada pendamping. Well, semoga saja dia mendapat Oscar setelah menyabet aktris terbaik di ajang Golden Globe 2009.

Friday, January 30, 2009

Kisah Bayi yang Terlahir Tua

Judul Film : The Case of Curious Benjamin Button
Genre : Drama
Pemain : Brad Pitt, Cate Blanchett, Taraji P Henson, Julia Ormond, Jason Flemyng, Tilda Swinton, Joanna Sayler
Sutradara : David Fincher
Produksi : Paramount Pictures dan Warner Bros
Durasi : 166 menit
Rating : 5/5


Di malam perayaan berakhirnya Perang Dunia I atau sekitar tahun 1918, seorang bayi terlahir dengan kelainan fisik. Tubuhnya keriput, menyerupai lelaki tua yang berumur 80 tahun. Ibu bayi tersebut meninggal, sedangkan ayahnya, Thomas Button (Jason Flemyng), malah membuang bayi tersebut karena dianggap monster.

Beruntung bayi tersebut diselamatkan Queenie (Taraji P Henson), perawat di sebuah panti jompo. Menurut dokter yang dipanggil Queenie, bayi tersebut mengidap penyakit langka. Umur bayi itu tak akan lama. Namun, perkiraan tersebut salah. Bayi bernama Benjamin (Brad Pitt) itu dapat bertahan hidup dan tinggal di panti jompo.

Hari demi hari kondisi Benjamin tampak lebih bugar dibanding penghuni panti lainnya. Meski wajahnya masih terlihat renta, perilaku Benjamin mirip seorang anak kecil yang ingin mengetahui banyak hal. Karena itu, ia pernah diajar bermain piano oleh salah satu penghuni panti.

Salah satu cucu dari penghuni panti, Daisy menjadi teman Benjamin setiap akhir pekan. Kehidupan Benjamin makin hidup. Kendati Benjamin terlihat tua, Daisy justru melihat ada sesuatu yang istimewa di diri Benjamin.

Suatu saat, Benjamin bermain di pelabuhan. Sampai akhirnya, Kapten Mike mencari anak buah kapal. Benjamin pun melamar untuk bekerja di kapal tersebut. Hal itu justru membawa Benjamin berkeliling dunia. Bahkan, mulai mengenal seks dan terpikat kecantikan Elizabeth Abbots, istri menteri luar negeri Inggris. Benjamin juga ikut Perang Dunia II.

Setelah itu, Benjamin bertemu Queenie dan Daisy (Cate Blanchett) yang telah dewasa dan cantik serta menjadi penari balet. Benjamin juga tampak lebih muda dari sebelumnya. Sampai akhirnya Benjamin berkenalan dengan Thomas, ayah yang membuangnya. Ketika Thomas meninggal, Benjamin mendapatkan banyak warisan, mulai dari pabrik kancing, rumah mewah di tengah kota dan pinggir pantai, serta perahu layar.

Akan tetapi, setelah Queenie meninggal, pria yang hidup makin muda itu akhirnya menikah dengan Daisy dan menghasilkan seorang putri yang cantik. Caroline namanya.

Kini, di sebuah rumah sakit, Caroline (Julia Ormond) diminta Daisy—yang sedang menanti ajal karena penyakit gula—untuk membacakan buku harian milik Benjamin. Diiringi badai katarina yang siap menyerang, lembaran-lembaran buku yang dibaca Caroline menjadi perpindahan adegan ke kehidupan Benjamin di masa lampau.

Penggunaan alur flashback itu digarap apik oleh David Fincher, sang sutradara. Penonton diajak memasuki tiap sendi kehidupan Benjamin yang akhirnya meninggal dalam kondisi bayi. Setiap adegan yang diperlihatkan Fincher menghadirkan sinematografi yang indah dan memanjakan mata, khususnya ketika Benjamin dan Daisy memadu kasih di kapal layarnya.

Hal menarik lain dari film yang mengadaptasi cerita pendek karya F Scott Fitzgerald dalam bukunya Tales of the Jazz Age (1921) itu adalah tata rias yang hampir sempurna. Penampilan Brad Pitt dan Cate Blanchett untuk menunjukkan masanya sungguh nyata. Itu tentu dibantu dengan penggunaan teknologi dan efek visual yang amat maksimal, sehingga mampu menghadirkan tampilan fisik Brad maupun Cate yang nyata.

Untuk menghadirkan hal tersebut, Fincher bahkan menggunakan tujuh aktor untuk memerankan Benjamin tua hingga muda. Mereka adalah Peter Badalamenti, Robert Tower, Tom Everrett, Spencer Daniels, Chandler Canterbury, dan Charles Henry Wyson. Brad hanya memberikan wajahnya untuk dipadukan dengan tubuh ketujuh orang tersebut. Brad Pitt benar-benar tampil utuh ketika adegan di kapal saat salju menerpa.

Tak heran, untuk kategori tata rias dan efek visual film ini masuk nominasi Oscar 2008. lebih dari itu, film ini juga dinominasikan untuk kategori sinematografi, rancangan kostum, film terbaik, aktor terbaik, aktris pendukung terbaik, artistik, sutradara, penata musik, editing, penata suara, dan skenario.

Pada akhirnya, film yang diakui Fincher cukup lama dalam proses penggarapannya, yakni sejak 2003, ini mencoba mengajak penonton becermin betapa hidup adalah sebuah proses yang harus dilewati. Diawali dari proses kelahiran, hingga mencapai proses kematian. Cinta dan perjuangan hidup menemukan identitas diri juga menjadi bagian yang menarik untuk disimak.

Wednesday, January 28, 2009

Mengangkat Kisah Anak Jalanan

Judul Film : Sepuluh
Genre : Drama
Pemain : Rachael Maryam, Ari Wibowo, August Melasz, Keke Harun, Yofana, Gesar, Prana, Mario Tanzala
Sutradara : Henry Riady
Produksi : First Media Production
Durasi : 120 menit
Rating : 2/5

Nasib anak jalanan diangkat dalam film perdana Henry Riady berjudul Sepuluh. Potret kehidupan anak jalanan yang dibayang-bayangi berbagai kejahatan seperti penculikan, pelecehan seksual, narkoba, dan perdagangan organ tubuh diungkap dengan gamblang dalam film produksi First Media Production ini.

Namun, pengungkapan kisah anak jalanan tersebut diambil dari pandangan seorang wanita bernama Yanti (Rachael Maryam). Sepuluh tahun lalu Yanti kehilangan anak kandung yang dijual oleh suaminya, Aditya (Mario Tanzala) demi mendapatkan narkoba. Karena ulah Aditya pula, Yanti harus meringkuk di tahanan karena ditemukan narkoba di rumahnya.

Sepuluh tahun berlalu, Yanti berupaya untuk mencari anaknya yang hilang. Ia mendatangi rumah orangtua Aditya. Namun, sia-sia. Tak ada kabar anaknya. Malah dia diusir oleh ibu Aditya.

Untuk menjalani hidup, Yanti bekerja sebagai buruh cuci pakaian di perkampungan kumuh di Jakarta. Sampai suatu ketika, Yanti memergoki Mongki (Yofana) yang sedang dipukuli. Mongki rupanya anak jalanan yang diawasi oleh Dargo (August Melasz), preman yang membeli Mongki dari Aditya.


Akhirnya, Yanti menolong Mongki dan merawatnya. Dari situ, hubungan Yanti dan Mongki makin akrab. Sampai akhirnya, Yanti bercerita bahwa anaknya yang bernama Maria hilang sejak sepuluh tahun lalu. Mongki sebetulnya anak Yanti yang hilang itu.

Seiring berjalannya waktu, Yanti sadar akan adanya eksploitasi anak dan penjualan organ secara ilegal yang dilakukan Dargo. Satu per satu anak jalanan yang ada di bawah pengawasan Dargo menghilang. Termasuk, sahabat Mongki, Darius (prana). Itu membuat Yanti takut kehilangan Mongki.

Sementara itu, mantan kekasih Yanti, Thomas (Ari Wibowo), juga takut kehilangan anaknya, David (Gesar), karena sakit ginjal. Ketika David harus segera dioperasi, Thomas menghubungi Dargo untuk mendapatkan ginjal bagi anaknya. Dargo pun memberikan Mongki.

Alur Lambat
Penggunaan alur dalam film ini cukup lambat. Akibatnya, film yang durasinya sekitar 120 menit terkesan bertele-tele. Penonton pun dibuat bosan dari alur yang lambat dan pelan ini. Mungkin alur ini ingin mempertegas suasana yang dibangun. Misalnya soal bagaimana pahitnya perasaan Yanti ketika harus hidup sendiri karena Aditya meninggal dan Maria belum juga ditemukan. Hanya foto-foto Maria dan kotak musik sebagai obat kesendiriannya.

Alur lambat tersebut dikarenakan ada beberapa tokoh yang kehadirannya justru tidak penting. Bahkan, tidak dapat membangun jalannya cerita. Seperti kemunculan tetangga Aditya yang mengabarkan bahwa kehadiran Yanti diperlukan Aditya. Jika tokoh ini memang perlu dihadirkan, setidaknya tidak tiba-tiba hadir kemudian tak muncul lagi di adegan selanjutnya. Ada pula tokoh Plontos yang tak memberikan arti apa-apa.

Akibat menggunakan alur yang lambat justru menimbulkan keganjilan dalam pengadegan. Misalnya, Yanti yang hidup sebagai buruh cuci malah bisa membelikan Mongki dan Darius baju baru di supermarket besar. Penggunaan telepon genggam juga terasa ganjil karena hanya ada untuk mengabarkan bahwa Aditya membutuhkan Yanti. Begitu pula ketika Dargo berhasil masuk ke rumah sakit dan menyandera Mongki. Padahal, dia sedang diburu oleh kepolisian.

Terlepas dari itu, musik pengiring yang dibuat Addie MS berhasil mengungkapkan suasana yang ingin dibangun. Alunan musik yang ada terasa pas dengan suasana yang terjadi. Ini salah satu kelebihan film yang mulai diputar tanggal 5 Februari 2009 dan menghabiskan dana Rp 12,7 miliar.

Di samping itu, pemilihan tema dalam film ini perlu diapresiasi. Sebab, tema yang mengangkat permasalahan anak jalanan jarang diungkap ke layar lebar. Apalagi, di balik kehidupan anak jalanan ada banyak kejahatan yang mengancam. Karena itulah, Henry yang baru pertama kali membuat film ini ingin mengajak masyarakat berbuat sesuatu untuk anak jalanan seperti yang ditunjukkan Thomas di akhir film.

Friday, January 09, 2009

Seven Pounds: Menginspirasi untuk Rela Berkorban

Judul Film : Seven Pounds
Genre : Drama
Pemain : Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Michael Ealy, Elpidia Carrilo, Stewart Goodman
Sutradara : Gabriele Muccino
Produksi : Columbia Pictures
Durasi : 118 menit
Rating : 4/5


Banyak orang yang berat untuk berkorban. Apalagi sampai merelakan seluruh kekayaan dan anggota tubuhnya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Namun, film ini mengajak dan menginspirasi penonton untuk rela berkorban bagi orang lain.

Film ini diawali dengan kehidupan Ben Thompson (Will Smith) yang frustrasi karena hidupnya tak berarti. Tinggal di rumah mewah di pinggir pantai tak membuat hidup Ben menjadi tenang. Justru dia merasa ada tanggung jawab yang mesti cepat diselesaikannya. Pasalnya dia menjadi penyebab tewasnya tujuh orang, termasuk istrinya, dalam sebuah kecelakaan yang berlangsung tujuh detik.

Karena merasa bersalah, Ben berupaya mencari tujuh orang yang bisa ditolong olehnya. Namun, itu butuh waktu dan orang yang tepat. Dengan begitu, tanggung jawabnya terselesaikan. Mengaku-ngaku sebagai petugas pajak dari Internal Revenue Service (IRS) yang dapat mengakses laporan pajak banyak orang, Ben akhirnya menemukan Emily Posa (Rosario Dawson), wanita pembuat undangan pernikahan.

Ben kemudian berupaya mendekati Emily dengan alasan menagih tunggakan pajak. Namun di balik itu, Ben rupanya sedang menyelidiki apakah Emily berhak mendapatkan bantuan darinya. Karena itu, Ben harus menjalin hubungan dengan Emily. Bahkan, Ben rela tidur di rumah sakit karena Emily menderita penyakit jantung bawaan.

Pulang dari rumah sakit, Ben masih terus melakukan penjajakan dengan Emily. Sampai akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Sayangnya, nyawa Emily tergantung pada seseorang yang bersedia mendonorkan jantungnya. Ben pun tergugah.

Sementara itu, Ben juga mencari orang lain yang pantas ditolong. Salah satunya Ezra Turner (Woody Harrelson), petugas layanan pelanggan yang buta. Ada juga Connie Tepos (Elpidia Carrillo), wanita yang mengalami kekerasan rumah tangga, dan George Ristuccia (Bill Smitrovich), pelatih hoki es yang memiliki penyakit ginjal.

Merekalah orang-orang yang ditolong Ben. Connie Tepos mendapatkan rumah Ben di pinggir pantai. George mendapatkan ginjal Ben. Ezra memiliki bola mata Ben. Sementara Emily akhirnya mendapatkan jantung Ben.

Di akhir cerita, terungkap jati diri Ben yang sebenarnya. Nama asli Ben adalah Tim. Adapun Ben Thompson adalah nama adik Tim yang sebetulnya bekerja di IRS. Orang-orang lain yang juga pernah mendapatkan organ tubuh Tim juga terkuak. Adik Tim menjadi salah satunya yang ditolong. Dia mendapatkan paru-paru Tim. Selain itu, hati Tim ada di tubuh Holly Apelgren (Judyann Elder).

Menyentuh
Film yang disutradarai Gabriele Muccino ini sungguh menyentuh hati penonton. Bahkan, kisah ini bisa membawa penonton meneteskan air mata. Pengorbanan yang tulus dan besar dari Ben menjadi kekuatan film ini. Ini juga yang menginspirasi penonton untuk mau berkorban demi orang lain.

Sisi penggarapannya pun sungguh memikat. Sang sutradara berhasil memancing penonton untuk terus menyaksikan film ini hingga akhir dengan menyajikan sisi romantisme dan tragedi secara bergantian. Dengan alur flashback, Gabriele Muccino juga mengurai sedikit demi sedikit petunjuk mengenai alasan Ben membantu banyak orang. Ini yang membuat penonton penasaran. Jadinya, perasaan penonton ikut terbawa dan hanyut dalam suasana yang dibangun dalam film ini.

Namun begitu, saat Ben menanyakan persentase keselamatan Emily kepada dokter yang merawatnya, jalan cerita seakan mudah ditebak. Bahwa Ben akan mendonorkan jantung dan matanya kepada Ezra dan Emily. Akan tetapi, saat itulah film ini makin menonjolkan pesan yang ingin disampaikan. Penonton pun kembali diajak untuk lebih melihat besarnya pengorbanan dan amat berartinya pertolongan bagi orang lain.

Suasana yang dibangun di film ini tentu tidak bisa terlepas dari peran Will Smith yang bermain cukup apik. Will yang biasanya bermain di film-film laga maupun komedi cukup piawai memerankan karakter Ben yang depresi, tetapi berhati mulia. Kendati sudah cukup terlihat berusaha keras agar tampak serius, mimik wajah Will yang mengundang senyum seperti di film komedi agak sedikit terlihat di beberapa adegan. Namun terlepas dari itu, upaya Will untuk serius di film ini patut diapresiasi. Apalagi, Seven Pounds merupakan film pertama Will Smith di genre murni drama.

Friday, November 28, 2008

Terjebak Konspirasi Kontrak Pembunuhan

Judul Film : The Contract
Genre : Drama misteri kejahatan
Pemain : Morgan Freeman, John Cusack, Jamie Anderson, Alice Krige
Sutradara : Bruce Beresford
Produksi : Contract Production
Durasi : 96 menit


Hubungan antara Ray Keene (John Cusack) dan Chris Keene (Jamie Anderson) sedang tak baik. Komunikasi di antara ayah dan anak itu bermasalah. Bahkan hampir terjadi keributan, meski tidak terlalu emosional.

Ray yang mantan polisi dan kini menjadi guru olahraga di sebuah sekolah ini menginginkan Chris untuk tidak tercebur ke dalam pengaruh obat-obatan terlarang. Apalagi sampai menjadi pecandu. Namun, Chris malah membantahnya dengan mengatakan bahwa Ray juga pernah melakukan hal itu ketika masih seusianya.

Akhirnya, Ray berinisiatif mengajak Chris berlibur dengan mendaki gunung. Itu dilakukan untuk memperbaiki komunikasi di antara keduanya. Setidaknya kedekatan antara mereka terjalin kembali.

Sementara itu, di lokasi lain, Frank Carden (Morgan Freeman) bersama timnya baru saja menjalankan misi pembunuhan berdasarkan kontrak yang telah mereka terima. Kelompok Carden ini beranggotakan beberapa pensiunan militer yang pernah melakukan aksi intelijen.

Namun, ketika akan menjalankan kontrak selanjutnya, Frank mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak truk setelah dia ditelepon sang pemberi kontrak. Frank akhirnya dibawa ke rumah sakit. Namun, karena dia membawa senjata, polisi menangkapnya. Identitasnya pun terkuak. FBI turun tangan untuk menanganinya.

Anggota tim Carden tidak tinggal diam. Mereka berusaha membebaskan Frank karena dia satu-satunya yang berhubungan dengan orang yang memberikan kontrak. Apalagi, pembayaran misi lewat Frank.

Ketika tim itu berusaha menolong Frank, mobil yang membawa Frank malah tercebur jurang. Di tepi jurang, Frank diselamatkan Ray dan Chris yang sedang mendaki. Tapi FBI yang membawa Frank tewas setelah berpesan kepada Ray untuk menyerahkan Frank ke polisi.

Akhirnya, Ray dan Chris dikejar-kejar anggota Frank. Nyawa mereka pun menjadi taruhan. Sementara polisi kota justru sibuk mengamankan prosesi pemakaman seorang anak miliarder yang tewas karena ulah Frank. Ray dan Chris terjebak dalam konspirasi kontrak pembunuhan.

Secara umum, cerita film yang telah lama dirilis, tetapi baru masuk Indonesia belum lama ini cukup istimewa. Inti film ini memang bagaimana upaya Ray menyelamatkan Chris dari pengaruh dan niat jahat Frank.

Akan tetapi, upaya itu dibumbui juga dengan pengkhianatan yang dilakukan salah satu anggota kelompok Frank. Frank juga menjadi incaran pembunuhan. Dengan begitu, film ini menjadi menarik sehingga ceritanya bisa mudah diikuti penonton.

Kendati ceritanya mudah diterima, ada beberapa adegan yang dibangun justru terkesan agak dipaksakan muncul. Misalnya ketika Ray dan Chris bertemu dengan dua pendaki lain. Lalu, pendaki laki-laki tersebut tewas tertembak anggota tim Frank. Dan di akhir cerita, pendaki wanitanya malah memiliki hubungan khusus dengan Ray.

Sementara itu, upaya Ray untuk membangun komunikasi yang baik dengan anaknya tidak diekspos lebih dalam di film ini. Hanya ada sedikit pembicaraan tentang masa lalu ketika mereka akan mulai mendaki.

Untuk adegan pertarungan antara Ray dan anggota tim Frank juga tidak menarik. Ray yang menjadi guru olahraga malah mampu mengalahkan lima orang teman-teman Frank. Padahal anggota tim Frank merupakan para alumni dari dinas intelijen militer.

Meskipun demikian, akting Morgan Freeman cukup apik sebagai pembunuh bayaran yang tampil dingin. Tidak ada gurat di wajahnya yang menandakan ketegangan ketika Frank berupaya untuk membunuh. Frank terlihat berhati-hati dan penuh perhitungan dalam menjalankan sebuah misi kontrak pembunuhan. Morgan Freeman tampil amat santai di film ini.

Romantisme Kisah Cinta Manusia dan Vampir

Judul Film : Twilight
Genre : Drama fantasi romantis
Pemain : Kristen Stewart, Robert Pattinson, Billy Burke, Peter Facinelli, Elizabeth Reaser
Sutradara : Catherine Hardwicke
Produksi : Summit Entertainment
Durasi : 120 menit


Siapa saja bisa jatuh cinta. Cinta juga bisa hadir untuk siapa saja. Sebab, cinta itu memang indah, namun terkadang membutakan.

Secara diam-diam cinta ini muncul di hati Isabella Swan (Kristen Stewart), gadis yang baru saja pindah ke kota kecil bernama Forks. Cinta Bella hadir untuk pemuda tampan berwajah pucat yang memiliki sorot mata tajam dan alis tebal. Pria itu bernama Edward Cullen (Robert Pattinson). Namun, dia bukanlah pria biasa yang hidup seperti manusia normal. Dia adalah makhluk penghisap darah atau vampir.


Rasa cinta yang dialami Bella berawal dari pandangan mata di sekolah. Bella yang baru pindah tentu ingin mencari teman. Namun, dia terpikat oleh kemisteriusan Edward yang selalu berkumpul dengan keluarganya. Di sekolah juga seperti itu. Para siswa menganggap Edward dan keluarganya sebagai keluarga yang aneh. Karena itu, banyak siswa yang tidak menyukai mereka.

Justru Bella menganggap Edward sebagai pemuda dingin yang banyak masalah. Karena itu, dia ingin membantu Edward. Apalagi, ketika sehari setelah mereka bertemu, Edward tidak masuk kelas. Lambat laun akhirnya mereka mulai dapat berkomunikasi dan makin akrab.

Edward juga sering memperhatikan Bella ketika tidur. Itu dilakukannya karena dia juga tertarik dengan Bella. Bahkan, Edward menolong Bella ketika ada mobil yang akan menabraknya. Edward menahan mobil itu dengan satu tangan.


Dari situ, Bella mulai curiga dengan Edward. Ada sesuatu di diri Edward. Bella lalu mencari tahu siapa sebenarnya Edward berdasarkan petunjuk yang didapat. Hingga akhirnya, Bella mengetahui jati diri Edward yang seorang vampir. Bella bisa menerima itu. Apalagi keluarga besar Edward yang hanya menghisap darah binatang juga bisa menerima kehadiran Bella.

Sementara itu, ada vampir lain yang juga hadir di kota Forks. Mereka mencari penduduk kota yang sendirian untuk dihisap darahnya. Sampai suatu ketika, vampir ini mengincar Bella. Tentu Edward, kekasih Bella, tak tinggal diam. Sebab, Bella adalah wanita yang telah ia tunggu-tunggu selama 90 tahun.


Twilight merupakan film yang diangkat dari novel karya Stephenie Meyer berjudul sama. Dalam film ini, vampir tidak lagi menjadi makhluk yang menyeramkan dan selalu mengincar darah manusia. Darah manusia yang menjadi makanan favorit diganti dengan darah binatang.

Vampir di film ini seakan dibuat lebih manusiawi. Makanya, tampilannya pun dibuat lebih sopan, rapi, dan eksklusif. Tak ada gigi taring yang terlihat. Mereka bahkan bisa memiliki rumah besar dan mobil mewah. Jadi, kehidupannya seperti manusia pada umumnya.


Bedanya, mereka tidak dapat mati. Buktinya, di rumah keluarga Edward terkumpul banyak topi wisuda SMA dari beberapa tahun. Romantisme pacaran ala vampir pun berbeda. Antara Bella dan Edward tidak berpacaran dengan menonton film di bioskop, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon sambil melihat pemandangan yang indah.

Meskipun begitu, sifat asli dan keinginan untuk menghisap darah manusia terkadang muncul. Tetapi, bagi keluarga Edward, hal itu harus mereka tahan karena mereka sedang ‘diet’ menghisap darah. Ini menjadi cobaan Edward ketika hubungannya dengan Bella makin akrab.

Sayangnya, alur film yang berdurasi hampir dua jam ini terkesan bertele-tele, khususnya ketika di tengah film. Ada beberapa adegan yang seharusnya tidak dibuat panjang-panjang. Mungkin ini dibuat agar sama dengan versi bukunya.

Di samping itu, alur film juga terkesan datar. Konflik baru muncul ketika ada vampir lain yang mengincar Bella. Namun, ketegangan dari adegan itu kurang terlihat. Akibatnya, jalan cerita menjadi biasa saja. Meski demikian, film ini memberikan gambaran vampir yang berbeda.

Friday, October 31, 2008

Sebuah Pertunjukan Pesta Perpisahan SMA

Judul Film : High School Musical 3: Senior Year
Genre : Drama musikal
Pemain : Zac Efron, Vanessa Hudgens, Ashley Tisdale, Lucas Grabeel, Corbin Bleu, Monique Coleman
Sutradara : Kenny Ortega
Produksi : Waltz Disney Pictures
Durasi : 100 menit


Masa-masa SMA merupakan pengalaman yang berkesan. Banyak peristiwa menarik di dalamnya. Berbagai kenangan dan pengalaman akan tersimpan. Namun, masa indah tersebut akan berakhir ketika berada di tingkat akhir. Sementara itu, cita-cita, motivasi, harapan, dan kekhawatiran akan masa depan hadir di lubuk hati. Kedewasaan dan meraih impian menjadi tujuan lainnya.

Itulah yang tergambar dari film High School Musical 3: Senior Year. Film ini merupakan sekuel dari dua film sebelumnya yang berjudul sama. Namun, perpisahan setelah menyelesaikan studi di SMA menjadi ide cerita dalam film ini.

Film ini berkisah mengenai perayaan kelulusan siswa-siswi East High School. Sepasang kekasih, Troy (Zac Efron) dan Gabriela (Vanessa Hudgens), bersama teman-teman mereka berencana membuat pesta perpisahan sebelum wisuda digelar. Diarahkan oleh guru Dabus (Alyson Reed), sebuah tim akhirnya terbentuk untuk membuat pesta perayaan kelulusan.

Troy, Gabriela, Sharpay Evans (Ashley Tisdale), Ryan Evans (Lucas Grabeel), Chad Danforth (Corbin Bleu), Taylor McKessie (Monique Coleman), dan Kelsi Nielsen (Olesya Rulin) merupakan anggota dari tim tersebut. Mereka yang akan merancang pesta itu.

Berbagai persiapan pun dilakukan. Konsep pertunjukan pun terbentuk, yaitu sebuah drama musikal. Ryan dan Sharpay Evans ditunjuk sebagai koreografer, Kelsin Nielsen sebagai pengarah musik, Troy dan Gabriela adalah lakon utama, sedangkan Chad dan Taylor membantu dari belakang panggung.

Untuk menambah semarak acara, anggota cheerleader sekolah diperbantukan. Begitu pula beberapa anggota tim basket kebanggaan sekolah, Wildcats, unjuk kebolehan dalam perayaan kelulusan. Jadinya, pertunjukan pesta berlangsung meriah dan menjadi momen yang tak terlupakan.

13 Lagu
Dalam film berdurasi 100 menit ini, setidaknya terdapat 13 lagu yang diputar sepanjang film. Termasuk, lagu-lagu yang dibawakan para pemeran ketika pesta kelulusan berlangsung. Lagu-lagu tersebut di antaranya Now or Never, Right Here Right Now, I Want It All, Can I Have This Dance, Just Wanna Be With You, A Night To Remember, The Boys are Back, Walk Away, Scream, Spring Musical Medley, We're All in This Together, High School Musical, dan Last Chance.

Melalui lagu-lagu tersebut, kekhawatiran, ketakutan akan masa depan, motivasi, cita-cita, dan harapan dari para lulusan East High School disampaikan. Misalnya lagu Scream yang dinyanyikan Troy ketika hatinya galau menentukan pilihan untuk melanjutkan sekolah di Universitas Albuquerque ataupun Juilliard.

Begitu pula, lagu Walk Away yang menggambarkan suasana hati Gabriela yang harus berpisah dengan kekasihnya maupun teman-teman sekolahnya. Sementara lagu I Want It All yang dinyanyikan Evans bersaudara menggambarkan cita-cita dan harapan akan masa depan. Adapun lagu Just Wanna Be With You dan A Night To Remember menggambarkan kenangan-kenangan indah ketika bersekolah maupun saat bersama kekasih. Lagu ini dinyanyikan Troy dan Gabriela.

Sementara itu, dari sisi penggarapan cerita, tema film ini sangat sederhana sehingga mudah diikuti oleh penonton. Bahkan, film ini nyaris tidak ada konflik. Meskipun demikian, sikap iri untuk menjadi yang utama terlihat dari tokoh Sharpay yang cemburu dengan kepintaran Gabriela. Jadinya, film ini datar saja.

Namun begitu, unsur musikalitas melalui pemilihan musik dan lagu yang kebanyakan bernada ceria menjadi hal yang dikedepankan. Lagu-lagu itulah yang menjadi kunci dalam film arahan Kenny Ortega ini. Kekuatan lagu tersebut didukung pula dengan gerak tari yang harmonis dengan alunan musik. Akhirnya, suasana ceria sebuah pesta perpisahan terwujud.