Tuesday, August 26, 2008

Aku dan Kau (1)

Aku hanya tahu apa yang kutahu
Dan kau hanya tahu apa yang kau tahu

Tapi, aku ingin tahu apa yang kau tahu
Dan aku ingin kau tahu apa yang aku tahu

Bahwa aku tak tahu siapa kau
Dan kau tak tahu siapa aku

Jangan katakan kau tak mau tahu siapa aku
Dan aku tak usah mau tahu siapa kau

Meski aku ingin tahu siapa kau
Dan kau tak ingin tahu siapa aku

Aku hanya ingin tahu siapa kau
Dan aku ingin kau tahu siapa aku

Aku ingin hanya kau yang tahu siapa aku
Dan hanya aku yang tahu siapa kau

Aku ingin kau tahu
Dan kau harus tahu

Bahwa aku adalah aku
Dan kau adalah kau


Bekasi, 08-08-2008

Aku dan Kau (2)

Kau ingin tahu siapa aku
Dan kau ingin aku tahu siapa kau

Aku ingin kau tahu
Dan kau memang harus tahu

Bahwa kau adalah kau
Dan aku adalah aku

Aku ingin juga kau tahu
Dan kau memang harus tahu

Bahwa aku tak seperti yang kau kira
Dan kau tak seperti yang kukira

Jadi, kau tetaplah kau
Dan aku tetaplah aku


Bekasi, 08-08-2008

Hadiah dari Hernowo*)


Mengapa harus menulis dari otak kanan dulu baru otak kiri? Itulah pertanyaan yang menggelayut dalam pikiranku ketika membaca hadiah 1 Sekolah Menulis Online. Aneh memang, kok menulis harus seperti itu.

Namun, pikiranku lalu berputar, mencoba mencari tujuan hadiah ini. Sampai akhirnya, aku teringat tentang apa yang pernah ditulis oleh Hernowo, penulis buku Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quatum Writing, dan buku lainnya yang berhubungan dengan kemahiran berbahasa, khususnya tentang membaca dan menulis.

Menurut Hernowo, kesulitan awal ketika menulis adalah bagaimana mengeluarkan ide-ide yang bergentayangan di kepala. “Bagaimana mendobrak kebuntuan menulis?” kata Hernowo. Itulah yang menjadi permasalahan penulis pemula (dan juga mungkin penulis senior suatu saat). Wajar memang jika ketika menulis sulit untuk menuangkan ide dalam bentuk kalimat yang pas, enak dibaca, dan gurih.

Di beberapa buku Hernowo tersebut ada yang menyinggung sangat dalam ataupun hanya sebatas permukaan tentang cara mengatasi kebuntuan menulis. Aku lupa di buku yang mana Hernowo menerangkan cara kebuntuan menulis. Meskipun begitu, intinya ada beberapa teknik yang disampaikan oleh Hernowo untuk mengatasi hal tersebut.

Cara pertama dapat dilakukan dengan fast writing atau menulis cepat. Dalam teknik ini dijelaskan bahwa untuk melepas hambatan menulis, si penulis harus menuliskannya apa saja yang benar-benar terlintas dalam pikiran. Hernowo bahkan mengancam agar tidak memikirkan tata bahasa ataupun hal-hal yang berkaitan dengan itu, seperti tanda baca, susunan kalimat, pokoknya apa saja yang menghambat proses penulisan.

Rupanya, cara ini digunakan memang untuk menggairahkan otak kanan agar bisa bebas dan melayang sesuka hati. Maka dari itu, Hernowo menyarankan untuk tidak terlalu terpaku untuk menggunakan otak kiri. “Bagaimana mau bisa menulis kalau terus memikirkan kata ini pas tidak, EYD-nya sudah benar belum ya, atau kalimat ini berhubungan nggak dengan kalimat sebelumnya. Itu kan tugas otak kiri,” mungkin begitu kira-kira ucapan Hernowo dalam sebuah bukunya.

Bahkan, Hernowo menyarankan untuk terus menulis dalam sebuah buku harian. Itu sangat bermanfaat melatih otak kanan, karena dalam buku harian kita bebas menulis apa saja, dengan gaya apa saja, asalkan sesuka kita. Jadi, mirip buku chicken soup versi sendiri.

Menulis buku harian pun, saran Hernowo, harus dilakukan secara rutin, meskipun hanya satu kalimat. Kendati hanya satu kalimat, itu rupanya sudah melatih otak kita untuk terus menulis. Setidaknya itu memberikan stimulus kepada otak untuk tetap menulis.

Hernowo juga menyarankan agar menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Jika kita tidak tahu harus menulis apa, tulis saja seperti itu, ‘saya tidak tahu apa yang akan saya tulis.” Aneh memang tapi itu bisa mendobrak kesulitan kita untuk menulis.

Aku pernah melakukan apa yang disarankan pegawai di penerbit Mizan itu. Awalnya memang sulit. Aku bahkan menulis ‘saya tidak tahu harus menulis apa’ di hampir seluruh tulisan di buku harian. Tapi dari situ, lama-kelamaan entah dari mana ada saja ide untuk menulis ini, menulis itu, dan sebagainya. Makanya, saran Hernowo ini rupanya cukup ampuh buatku.

Di awal-awal menerapkan pelajaran dari pria kelahiran Magelang (kebetulan sama dengan daerah asalku) itu, saya pernah menulis ‘saya tidak tahu harus menulis apa’ sebanyak satu halaman. Dari situ hingga bisa menulis tanpa harus diawali ‘saya tidak tahu harus menulis apa’, sekarang sudah terkumpul tiga buku harian yang semuanya ditulis dalam bentuk soft copy. Bahkan, buku harian itu saya namakan Jejak 1, Jejak 2, dan Jejak 3. Isi ketiga buku itu hanyalah persoalan sehari-hari yang ringan dan yang dialami setiap hari.

Meski cuma berisi tulisan-tulisan ringan, ada perasaan bangga begitu tulisan itu dicetak dan dijilid. Rasanya seperti menghasilkan sebuah buku lalu dicetak sendiri. Namanya juga sederhana, kumpulan tulisan itu akhirnya dicetak menggunakan printer di atas kertas ukuran A4 yang dibagi dua. Setiap halaman dari kertas tersebut diisi tulisan ringan tersebut. Setelah itu dijilid. Untuk menambah keren, saya juga selipkan kata pengantar di setiap buku itu. Sekarang, buku itu tersimpan dengan rapi.

Untuk teknik kedua, Hernowo mungkin terinsipirasi dari pandangan Tony Buzan yang mencetuskan mind map. Mind map atau pemetaan pikiran ini menuliskan sebuah kata tepat di tengah-tengah kertas. Lalu, kata tersebut dihubungkan dengan hal lain yang masih berkaitan. Begitu terus, sampai akhirnya kita dapat memilih salah satu tema dari pemetaan pikiran tersebut. bahkan kalau perlu ditambahkan dengan gambar-gambar atau hal-hal lain yang mendukung, seperti pemberian garis dengan warna yang berbeda agar terlihat ciamik.

Untuk teknik yang satu ini, aku jarang menerapkannya. Kayaknya kurang cocok denganku. Apalagi, menurutku, cara itu lebih njelimet. Akhirnya cara pertamalah yang sering aku gunakan.


*) Tulisan ini merupakan hadiah 1 untuk kelas Sekolah Menulis Online (SMO) yang aku ikuti.

Tuesday, August 19, 2008

Ketika Cermin Menghantui Manusia

Judul Film : Mirrors
Genre : HororPemain : Kiefer Sutherland, Paula Patton, Amy Smart, Mary Beth Peil, Cameron Boyce, Erica Gluck, Julian Glover, John Shrapnel
Sutradara : Alexandre Aja
Produksi : 20th Century Fox
Durasi : 110 menit


Bukan hantu atau makhluk halus yang menjadi sumber kengerian dalam film ini. Namun, cerminlah yang menjadi sumber ketakutan dalam film arahan Alexandre Aja ini. Ide cerita ini sepertinya mirip dengan film Mirror versi Indonesia yang dibintangi Nirina Zubir, yakni sama-sama mengambil cermin sebagai sumber ketakutan.

Kendati mengambil judul yang sama, cerita dalam film ini berbeda dengan film Mirror arahan Hany R Saputra itu. Kisah film Mirrors ala Alexandre Aja lebih menekankan bahwa di balik cermin ada kehidupan lain yang terkadang menakutkan.

Film ini dimulai dari diterimanya Benjamin Carson (Kiefer Sutherland), seorang mantan polisi, menjadi penjaga gedung tua. Gedung tua bernama Mayflower itu kini rusak akibat terbakar beberapa tahun lalu dan dibiarkan terbengkalai

Di saat yang sama Ben sedang mengatasi perasaan bersalah karena pernah menembak rekan sejawatnya ketika masih bertugas di kepolisian. Di samping itu, ia juga.berupaya memulihkan hubungan dengan keluarganya dan mengatasi ketergantungan terhadap minuman keras.

Hingga suatu ketika, saat ia menjaga gedung tua tersebut, Ben menemukan jejak telapak tangan yang menempel di sebuah cermin. Ia berusaha membersihkannya. Tapi, malah telapak tangannya tergores akibat pecahan kaca. Anehnya, cermin yang disentuhnya tidak ada yang pecah.

Setelah itu, di hari yang lain, lagi-lagi Ben menemukan keanehan-keanehan di gedung tersebut terutama yang terlihat dalam sebuah cermin. Keanehan tersebut mulai dari terbakarnya tubuh Ben yang terlihat di cermin, sedangkan di dunia nyata tubuhnya tidak terbakar. Kemudian, ada juga rintihan suara wanita, penampakan seorang wanita yang kesakitan, dan sebagainya.

Cermin tersebut akhirnya mulai meneror kehidupan Ben. Adik Ben, Angela Carson (Amy Smart), menjadi korban teror dari cermin. Ben pun mengkhawatirkan keselamatan sang istri, Amy Carson (Paula Patton), dan dua anak mereka, yakni Michael (Cameron Boyce) dan Daisy (Erica Gluck).

Ben pun mulai menyingkirkan semua benda yang dapat memantulkan bayangan. Bahkan, semua cermin ditutupi dengan cat. Setiap kaca di jendela dan pintu juga ditutupi dengan kertas koran.

Sampai suatu saat, cermin di gedung tua tersebut menggoreskan sebuah nama, yaitu Esseker. Naluri Ben sebagai mantan polisi muncul. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui makna Esseker dan menyelamatkan keluarga Ben dari teror cermin.

Tak ada yang baru dalam film produksi 20th Century Fox ini. Seperti film-film yang menyuguhkan ketakutan, film ini dikemas dengan nuansa suram dan kelam. Bahkan, gedung tua yang menyimpan misteri menjadi hal klise mengingat film horor kerap menampilkan setting ini. Rupanya tak hanya film horor dari Indonesia yang memberikan kesan angker melalui sebuah gedung tua, tetapi juga film arahan sutradara asal Perancis ini.

Sementara itu, dari sisi cerita juga tak istimewa. Alur cerita yang ditulis Alexandre Aja dan Gregory Levassuer mudah ditebak. Apalagi ketika adegan mulai menyeramkan. Tampilan berbagai macam keanehan ataupun keganjilan membuat penonton mudah menebaknya.

Akan tetapi, bagi penikmat film horor, keganjilan-keganjilan yang kian lama kian banyak dan menyeramkan dapat menjadi kenikmatan tersendiri. Apalagi, suguhan suara yang mendukung serta akting Kiefer Sutherland dan Paula Patton yang merefleksikan ketakutan dan kengerian mampu menyokong suasana yang ingin ditonjolkan dari film horor ini. Akhirnya, bersiaplah untuk menerima rentetan teror dari benda yang memantulkan bayangan itu.

Friday, August 15, 2008

Kerja keras dan santai di Anyer

Inilah para panitia liburan ke Anyer pada tahun 2006 lalu. Panitia itu (ka-ki) Tomo, Yoga, Kiki, Udin, dan gua. Sebelum pulang nggak ada salahnya dikit mejeng, iya kan? hehehehe.

Kalau yang ini ada di salah satu lereng yang di bawahnya banyak air. Adiknya Yoga, Tyas, kayaknya jadi ratuny tuh. hehehe. Sementara Dadang kecengesan karena kepanasan dan nggak pake topi.

Sedikit bergoyang di pinggir pantai karena Dadang 'Dado' Rachmat lagi unjuk suara dangdutnya.

Makan kok ada jenjangnya ya. Kira-kira Yoga makan apa ya, sedangkan Udin yang paling bawah kira-kira makan makanan kelas bawah kali ya.

Thursday, August 14, 2008

Penjaga Malam

Kiri-kanan: Udin, Tomo, Yoga yang baru aja selesai main bulu tangkis di lapangan dekat rumah, sedangkan saya baru aja pulang kerja. Biasanya kalau udah begini ngbrol sampai pagi. akhirnya jadi deh penjaga malam (tukang ronda maksudnya)

Ini dalam gayayang lain, meski posisinya beda.

Ini juga dengan gaya yang berbeda. Semua foto ini diambil secara otomatis dengan posisi kamera diletakkan di atas motor. Lumayan juga hasilnya, kan?

Monday, August 11, 2008

Petualangan Robot Pembersih Bumi

Judul Film : Wall-E
Genre : Animasi
Pemain : Fred Willard, Jeff Garlin, Ben Burtt, Sigourney Weaver
Sutradara : Andrew Stanton
Produksi : Walt Disney Pictures
Durasi : 98 menit

Kebiasaan buruk manusia yang membuang sampah sembarangan lambat laun akan menjadikan bumi dipenuhi sampah. Lalu, apa jadinya jika hal itu terjadi? Lantas, bagaimana dengan kehidupan manusia?

Melalui film animasi besutan Andrew Stanton ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab. Film ini mengisahkan bahwa bumi akhirnya hanya menyisakan sampah yang menggunung. Sementara manusia—yang tidak mau tinggal di lingkungan yang dipenuhi sampah—harus bermigrasi ke sebuah pesawat luar angkasa bernama Axiom.

Untuk membersihkan bumi, ditugaskanlah robot pembersih sampah. Sayang, hingga tujuh abad tugas tersebut belum selesai dan hanya menyisakan satu robot pembersih yang bernama Wall-E (singkatan dari Waste Allocation Load Lifter-Earth Class).

Kehidupan robot ini pun mirip manusia. Siang hari bekerja, malam hari istirahat. Sebelum bekerja, Wall-E selalu mengisi energi dengan mengandalkan tenaga surya. Setelah itu, ia mengumpulkan sampah, lalu menekannya menjadi bongkahan-bongkahan kubus dan menyusunnya hingga menjulang.

Kecoa menjadi teman setia Wall-E. Sementara hiburan untuk Wall-E hanyalah kaset rekaman film usang yang menggambarkan dua orang kekasih saling bergandengan tangan. Bergandengan tangan menjadi impian Wall-E. Ia selalu berharap mendapatkannya.

Suatu ketika datanglah pesawat luar angkasa yang mengirimkan robot pencari tanaman. Robot ini disebut Eve (singkatan dari Extraterrestrial Vegetation Evaluator). Wall-E terkesima dengan robot putih bermata biru yang dapat menembakkan laser dari tangan itu.

Berbagai upaya dilakukan Wall-E untuk mendekati Eve. Ketika berhasil mendekati Eve, Wall-E memberikan tanaman yang ditemukannya saat mengumpulkan sampah. Eve, yang diprogram untuk mencari tanaman, langsung mengambil dan menyimpannya di dalam tubuh. Tak berapa lama, Eve seperti tak bernyawa. Hanya lampu indikator tanaman berwarna hijau yang menyala.

Wall-E merasa kehilangan Eve. Apalagi ketika Eve dijemput pesawat luar angkasa. Wall-E yang tak mau kehilangan Eve, membonceng kapal tersebut. Ternyata di pesawat Axiom, robot pembersih itu mendapat petualangan seru.

Tanaman yang dibawa Eve ternyata pertanda untuk mengembalikan seluruh manusia di pesawat Axiom ke bumi. Kapten kapal Axiom akhirnya memutuskan hal itu. Namun, keputusan kapten kapal ditentang robot pilot otomatis. Akhirnya, Wall-E dan Eve bekerja sama untuk membawa penumpang Axiom kembali ke bumi.

Di film yang ceritanya ditulis juga oleh Andrew Stanton ini sangat minim dialog. Setidaknya ini mengungkapkan bahwa sebenarnya robot memang tidak bisa berbicara seluwes manusia.

Karena itu, penggunaan gambar bergerak menjadi solusi untuk menyampaikan cerita film ini. Tindakan dan pengungkapan perasaan setiap tokoh di film ini juga ditampilkan dengan gambar bergerak. Untuk mendukung itu, film ini pun dibuat senyata mungkin meski Wall-E dikemas dalam bentuk animasi.

Andil Pixar Animation Studios untuk menciptakan film animasi senyata aslinya tak perlu diragukan. Buktinya, film animasi Finding Nemo, The Incredible, dan Cars menjadi pembuktian Pixar. Karena itu, tampilan Wall-E tak kalah dengan film-film tersebut.

Terlepas dari tampilan yang memesona, film yang layak ditonton anak-anak ini juga memberikan pesan mendalam. Setidaknya ada dua pesan yang disampaikan. Pertama, film ini menyinggung kehidupan manusia yang terlalu mengandalkan kemajuan teknologi. Dalam film ini, teknologi yang hebat membutakan manusia dari kehidupan nyata.

Kedua, sejalan dengan keadaan sekarang, bumi haruslah dijaga kelestariannya. Pesan ini tampak dari alur yang menceritakan pencarian tanaman. Jadi, selain menghibur, film ini mengajak penonton untuk melestarikan bumi.

Friday, August 08, 2008

Berpose di Ruang Foto

teman-teman yang ikut nimbrung kebanyakan dari bagian produksi. Tapi ada juga beberapa redaktur di sana.

Ini juga sama. Cuma beda posisi pengambilan gambar.

Tuesday, August 05, 2008

Indahnya Gerakan Tarian Jalanan

Judul Film : Step Up 2: The Street
Genre : Drama Musikal
Pemain : Briana Evigan, Robert Hoffman, Will Kemp, Cassie Ventura, Adam Sevani, Danielle Polanco, Black Thomas, Telisha Shaw
Sutradara : Jon M Chu
Produksi : Summit Entertainment dan Offspring Entertainment
Durasi : 98 menit


Sama seperti film sebelumnya, Step Up (2006), tarian dan musik hip hop masih menjadi daya pikat film besutan Jon M Chu ini. Meskipun begitu, cerita yang dihadirkan bukan kelanjutan dari film sebelumnya yang diarahkan Anne Fletcher.

Cerita yang disuguhkan kali ini mengisahkan kehidupan Andie West (Briana Evigan), wanita cantik yang terobsesi dengan tarian jalanan. Karena kecintaannya tersebut, ia bahkan tak melanjutkan sekolah. Sarah, yang menjadi orang tua angkat Andie, terpaksa mengusir Andie dari rumah karena hal itu.

Andie pun pergi ke klub malam. Di tempat tersebut, Andie bertemu Tyler Gage, sahabatnya yang jago menari. Mengetahui permasalahan Andie, Tyler menantang gadis tersebut beradu menari. Jika Tyler menang, Andie harus melanjutkan sekolah di Maryland School of Arts (MSA), sekolah dambaan para penari. Akhirnya, Andie diterima di sekolah tersebut.

Untuk menyalurkan kegemarannya, Andie bergabung dengan kelompok penari jalanan 410. Kelompok ini sedang menyiapkan diri untuk bertanding dalam perlombaan tarian jalanan yang disebut The Street. Maklum, gelar juara lima kali berturut-turut ingin mereka pertahankan.

Sayangnya, akibat kesibukan di sekolah, gadis yang biasa dipanggil ‘D’ itu selalu tak bisa ikut berlatih. Jikapun bisa datang, ia selalu terlambat. Karena hal itu, Andie dikeluarkan dari kelompok 410.

Sementara itu di sekolah, Andie bertemu Chase Collin (Robert Hoffman) pemuda tampan yang juga jago menari. Bersama Chase, ia pun membentuk kelompok menari. Anggotanya merupakan siswa MSA yang tak cocok dengan kurikulum sekolah. Jadinya, kelompok itu seperti kelompok buangan di sekolah. Bahkan, tarian yang mereka pertunjukan tidak disukai Blake Collins (Will Kemp), guru di MSA dan kakak Chase.

Blake makin tak menyukai grup dan tarian mereka begitu ruang studio di MSA dihancurkan kelompok 410. Blake yang mengetahui Andie pernah tergabung dalam 410 mengeluarkan Andie dari sekolah. Lagi-lagi kecintaan Andie terhadap tarian jalanan diuji.

Film berdurasi sekutar 98 menit ini kerap menayangkan gerakan-gerakan tarian yang cukup sedap dipandang. Dari awal hingga akhir film, tarian-tarian jalanan yang disuguhkan terus bermunculan dengan koreografi yang juga beragam.

Di awal film, tarian tersebut bahkan dilakukan di dalam kereta oleh beberapa orang yang menggunakan topeng. Sementara di akhir film, tarian tersebut disuguhkan di jalanan dalam guyuran hujan dengan disertai penerangan dan musik yang keluar dari sejumlah mobil. Jadi, adegan ini cukup memberikan nuansa lebih segar.

Tak hanya koreografi tarian yang variatif, musik pengiring tarian tersebut juga beragam. Musik yang diperdengarkan di antaranya hip hop, R&B, rap, dan beberapa musik lain dengan ritme nada yang energik sehingga memancing untuk bergoyang. Dengan begitu, roh film ini berasal dari dua unsur tersebut. Roh film ini makin kuat dengan tampilan gambar yang penuh warna.

Hal menarik lainnya berasal dari alur cerita yang digarap oleh Toni Ann Johnson dan Karen Barna. Cerita yang disajikan cukup ringan dan sederhana sehingga mudah untuk diikuti. Konfilk yang dialami para pemerannya juga ringan, tak terlalu dramatis dan rumit. Akibatnya, karakter tokohnya pun biasa saja.

Bumbu romantisme juga diselipkan di film ini. Hal itu terlihat ketika adegan Andie dan Chase berada di atas pohon dengan warna lampu yang cukup temaram. Sayangnya, kedekatan antara para anggota kelompok buatan Andie dan Chase kurang terasa. Akan tetapi, gerakan tarian jalanan dari kelompok Andie dan 410 serta disertai dentuman musik yang serasi cukup menghibur penonton.

Thursday, July 24, 2008

Mengungkap Kemisteriusan Lewat Cenayang

Judul Film : The X-Files: I Want To Believe
Genre : Science-Fiction
Pemain : David Duchovny, Gillian Anderson, Amanda Peet, Alvin Joiner, Billy Connolly
Sutradara : Chris Carter
Produksi : 20th Century Fox
Durasi : 106 menit


Kisah serial televisi The X Files kembali diangkat ke layar lebar. Kali ini berjudul The X Files: I Want to Believe. Sebelumnya, serial terhebat setelah Star Trek menurut majalah TV Guide ini pernah diputar di bioskop dengan judul The X Files: Fight the Future pada tahun 1998.

Cerita kali ini tak jauh berbeda dengan serial-serial sebelumnya yang berusaha mengungkap misteri melalui hal-hal yang tak dapat diterima akal sehat. Film ini berkisah tentang usaha Fox Mulder (David Duchovny) dan Dana Scully (Gillian Anderson) memecahkan misteri pembunuhan.

Alur film ini diawali dengan pencarian seorang agen FBI yang hilang di sebuah areal yang tertutup salju. Pencarian ini dibantu oleh Joseph Crissman (Billy Connolly), seorang pendeta yang bisa juga menjadi cenayang. Namun, mereka tidak berhasil menemukan agen tersebut.

Karena kesulitan menemukan agen FBI yang hilang, agen Mosley Drummy (Alvin Joiner) meminta bantuan Scully untuk membujuk Mulder. Mulder pun memenuhi permintaan para FBI. Pencarian kembali dilakukan.

Sayangnya, para agen FBI tidak percaya dengan usaha pencarian dengan mengandalkan ‘penglihatan’ paranormal itu. Lain halnya dengan Mulder. Dia sangat yakin usaha pencarian ini akan berhasil. Dia pun mengikuti setiap petunjuk yang diberikan Joseph.

Di tengah usaha pencarian agen FBI yang hilang, terjadi pula pembunuhan lain. Menurut Joseph, kejadian tersebut mempunyai keterkaitan dengan hilangnya agen FBI. Joseph juga memastikan bahwa agen FBI yang hilang itu masih hidup.

Sementara itu, Scully yang berprofesi menjadi dokter lebih mementingkan pasiennya yang mengalami kelainan di otak. Mulder yang membutuhkan bantuan Scully terus membujuk sang dokter agar tetap terlibat dalam usaha pencarian ini. Namun, itu tidak berhasil. Meskipun begitu, hati Scully tetap ingin berusaha membantu para agen FBI dan Mulder. Apalagi, Joseph pernah mengatakan kepada Scully untuk tidak menyerah.

Film yang masih mempertahankan akting David Duchovny dan Gillian Anderson cukup berhasil mengobati kerinduan penonton pada serial The X Files. Maklum, sejak 2002 serial yang selalu memberikan misteri ini telah berhenti produksi.

Film ini seolah-olah juga menjadi reuni antara Duchovny dan Anderson. Hal tersebut bahkan digambarkan ke dalam film ketika Scully membujuk Mulder untuk membantu FBI. Wajah berewok Mulder menandakan bahwa mereka sepertinya sudah lama tidak bertemu.

Film berdurasi 106 menit ini tetap mempertahankan kekhasan serial The X Files, yaitu sisi kemisteriusan. Sejak awal film, penonton langsung disuguhi inti permasalahan dari jalinan cerita yang dibuat oleh Chris Carter dan Frank Spotnitz. Namun, setiap adegan tersebut masih menyimpan teka-teki.

Melalui hal itu, penonton terus digiring untuk terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Pemberian petunjuk-petunjuk baru menguatkan kemisteriusan film ini. Bahkan, penjabaran mengenai hal ini ditampilkan sewajarnya oleh Carter.

Di samping itu, pemberian sedikit cerita mengenai dedikasi Scully yang berprofesi sebagai dokter memberikan nuansa lain. Apalagi film ini juga diselipkan sedikit pertikaian dan masih dibumbui keromantisan antara Mulder dan Scully. Hasilnya, penonton tidak melulu dihadapkan pada kemisteriusan cerita ini, tapi ada hal lain yang tak kalah menarik.

Sayangnya, ujung cerita film yang diproduksi 20th Century Fox ini tak sedramatis yang dibayangkan. Akhir film dibuat datar, tak ada ketegangan yang cukup berarti. Sepertinya, Chris Carter masih ingin mengingatkan penonton bahwa film ini memang berasal dari sebuah film serial di televisi dan telah memenangkan beberapa penghargaan.

Monday, July 14, 2008

Mobil-Mobil Hijau di IIMS

Pergelaran akbar otomotif Tanah Air, Indonesia International Motor Show (IIMS), kembali hadir untuk ke-16 kalinya. Ajang yang diselenggarakan oleh Gaikindo ini diadakan pada 11–20 Juli 2008 di Jakarta Convention Center. Guna mendukung pergelaran tersebut, sejumlah pabrikan berlomba untuk memamerkan kendaraan-kendaraan andalannya.

Ajang yang mendapat dukungan penuh dari The International Organization Motor Vehicle Manufactures (OICA) ini mengambil tema ‘Advanced Motoring, Hi-Quality Living’. Tema ini merefleksikan komitmen industri otomotif nasional untuk selalu mengedepankan perkembangan produk yang inovatif dan ramah lingkungan serta semakin aman dan nyaman ketika dikendarai. Apalagi, hal itu sejalan dengan konferensi perubahan iklim atau United Nations Framework for Climate Change Conference (UNFCCC) yang diadakan di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, di ajang tahunan ini beberapa pabrikan tak hanya akan memamerkan kendaraan andalannya, tetapi juga mobil-mobil ramah lingkungan. Sejumlah pabrikan tersebut di antaranya, Toyota, Mitsubishi, dan Honda. Namun, tak menutup kemungkinan pabrikan lain juga akan mengusung ‘mobil hijaunya’.

Toyota i-Real dan FT-HS

Toyota, yang getol membuat mobil ramah lingkungan, untuk IIMS kali ini berencana memboyong i-Real. Kendaraan lanjutan dari mobil i-Unit dan i-Swing ini merupakan wujud keseriusan Toyota dalam mengembangkan teknologi personal mobility. Bahkan, pihak Toyota mengklaim kendaraan ini sudah mendekati tahap untuk dijual secara komersial.

i-Real merupakan mobil konsep tiga roda keluaran Toyota yang memiliki dua tingkat kecepatan berbeda, yaitu low speed dan high speed. Untuk bermanuver, kendaraan pribadi ini dilengkapi kontrol operasi di salah satu bagian arm rest.

Saat dilajukan pada kecepatan rendah, jarak sumbu roda i-Real akan memendek sehingga bisa bergerak natural. Sebaliknya, pada kecepatan tinggi, wheelbase akan menjadi panjang, tingginya turun, dan stabilitas meningkat karena titik pusat gravitasi juga turun. Dengan begitu, kinerja pengendalian lebih baik.

Ringkasnya, pada kecepatan rendah dimensi mobil ini berukuran panjang 995 mm, lebar 700 mm, tinggi 1.430 mm dengan wheelbase 485 mm. Adapun pada kecepatan tinggi dimensi i-Real menjadi 1.510 mm x 700 mm x 1.125 mm dengan jarak sumbu roda 1.040 mm.

Kelebihan i-Real ketimbang pendahulunya terlihat pada material bodi yang dipakai. Bodi i-Real menggunakan plastik karbon fiber ringan. Bahan material kendaraan ini bahkan menggunakan kenaf, salah satu jenis tanaman yang berasal dari Indonesia.

Selain itu, karena hanya dapat digunakan oleh satu orang, kendaraan ini bisa berakselarasi dengan para pejalan kaki di pedestrian. Untuk menunjang keamanan, mobil ini dilengkapi sensor detektor tabrakan. Pengemudi diperingatkan lewat suara dan getaran dan sekaligus memperingatkan orang lain lewat cahaya dan suara.

Kendaraan hijau dari Toyota yang lain yaitu, FT-HS. FT-HS atau Future Toyota Hybrid Sport, menurut perancang konsep mobil FT-HS Chiharu Tamura, serasa mobil Ferrari, tapi dengan bahan bakar seirit mobil dengan mesin empat silinder.

Untuk menunjang sebagai mobil sport, kendaraan ini dipersenjatai mesin V6 3.5 liter. Mesin ini menggabungkan antara mesin bensin dan motor elektrik. Mesin ini juga dilengkapi dengan Toyota Hybrid Synergy Drive sehingga mampu menghasilkan tenaga hingga 400 tenaga kuda. Untuk berakselerasi dari 0 hingga 100 km/jam hanya dibutuhkan waktu empat detik.

Agar dapat berakselarasi di jalanan, kendaraan ini menggunakan carbon-fiber wheels yang dibalut ban berdiameter besar dan lebar yaitu 245/35R21 untuk di depan dan 285/30R21 di belakang. Mobil ini juga menggunakan konfigurasi kursi 2 + 2.

Di samping kendaraan tersebut, Toyota juga masih memiliki mobil hijaunya yang lain. Mobil itu di antaranya Prius Hybrid, 1/X, FT-MV, Hi-CT, RiN, iQ Concept, serta Crown Hybrid Concept. Namun, mobil-mobil ini tidak dipamerkan pada IIMS 2008.

Mitsubishi i-MiEV

Pabrikan kendaraan Mitsubishi juga tak mau kalah dengan pesaingnya, Toyota, dalam menciptakan kendaraan ramah lingkungan. Pada ajang otomotif terbesar di Indonesia ini, Mitsubishi akan memamerkan mobil listrik ‘i’ Mitsubishi innovative Electric Vehicle atau i-MiEV.

Kendaraan hijau dari Mitsubishi ini sudah lama diperkenalkan. Tepatnya pada tahun 2006 di ajang 22nd International Battery, Hybrid and Fuel Cell Electric Vehicle Symposium & Expo yang diselenggarakan di Yokohama, Jepang. Namun, saat itu masih berupa mobil konsep.

Meskipun begitu, Mitsubishi Motors Corporation (MMC) tetap akan memasarkan mobil mungil ini pada tahun depan di Jepang. Awalnya, mobil ini akan mulai dipasarkan tahun 2010. Namun, jadwal itu dimajukan. Itu dilakukan sebagai bagian dari rencana mengurangi efek pemanasan global dan ketergantungan terhadap minyak.

i-MiEV yang digerakkan dengan motor listrik memiliki kekuatan sebesar 47 kW atau setara dengan 64 PS. Sementara putaran torsi maksimalnya 180 Nm pada 8.500 rpm. Kecepatan maksimum yang dapat dicapai sekitar 130 km/jam.

Kendaraan ini mengandalkan tenaga dari baterai lithium ion (Li-ion) yang disimpan di lantai kendaraan. Baterai ini tentu berkapasitas tinggi. Setiap baterai yang terpasang memiliki 22 modul. Adapun setiap modul mempunyai empat sel.

Tenaga yang dikeluarkan baterai ini sekitar 16 kWh. Untuk mendapatkan tenaga sebesar itu dapat dilakukan pengisian dengan tiga cara, yakni menggunakan colokan 100 Volt, 200 Volt, atau quick charge 200 Volt. Untuk colokan rumah, terdapat di kanan belakang mobil, sedangkan colokan quick charge ada di kiri belakang mobil.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai bervariasi. Bila menggunakan colokan 100 Volt, dibutuhkan sekitar 14 jam. Sementara untuk 200 Volt, diperlukan 7 jam, sedangkan dengan quick charge selama 30 menit atau baru 80% dari kapasitas penuh. Namun, itu sudah mencukupi untuk melajukan kendaraan. Jika tenaga diisi penuh, baterai ini dapat menggerakkan mobil sejauh 160 km tanpa mengoperasikan penyejuk udara.

Mobil mungil nan ramah ini pernah diikutsertakan pada konferensi perubahan iklim di Nusa Dua, Bali, akhir tahun lalu. Di samping itu, mobil ini juga digunakan pada acara pertemuan negara-negara G8 atau ‘G8 Hokkaido Toyako Summit’ yang akan membahas isu pemanasan global. Acara tersebut dilaksanankan di Toyako, Hokkaido, Jepang, pada 7–9 Juli 2008.

Honda Civic Hybrid

Seperti tahun lalu pada ajang IIMS ke-16, kali ini PT Honda Prospect Motor (PT HPM) masih memajang Honda Civic Hybrid. Kendaraan ini menggunakan tenaga motor elektrik sebagai pendukung mesin berbahan bakar bensin. Dengan kata lain, mesin berbahan bakar bensin sebagai sumber tenaga utama, sedangkan motor elektrik sebagai alat untuk menghasilkan efisiensi bahan bakar dan emisi yang bersih.

Sedan ramah lingkungan ini menampilkan perpaduan mesin i-DSI dan 3-stage i-VTEC 1.3 liter. Mesin i-DSI memiliki empat silinder yang menggunakan dua busi di tiap silinder. Dengan begitu, hasil pembakaran menjadi lebih sempurna. Adapun mesin 3-stage i-VTEC dapat mengatur tiga tahapan valve timing (low-rpm, high-rpm, dan cylinder idle mode) sesuai dengan kondisi berkendara.

Kedua mesin ini juga dipadukan dengan sistem IMA (Integrated Motor Assist) yang telah disempurnakan. Fungsi mesin ini untuk mendapatkan tenaga lebih besar 20% dan konsumsi bahan bakar lebih ekonomis 5% dibanding pendahulunya.

Pada kecepatan rendah sistem mesin ini dapat menghasilkan torsi setara dengan mesin bensin berkapasitas 1.8 liter. Selain itu, sistem ini mampu menekan penggunaan bahan bakar hingga 31.0 km/l. Sistem ini juga menghasilkan emisi yang cukup rendah, yaitu tingkat emisi 75% di bawah standar batas emisi yang ditetapkan pemerintah Jepang untuk tahun 2005.

Mesin bensin yang dibenamkan di Civic Hybrid mampu menghasilkan tenaga sebesar 70 kW (95 PS) pada 6.000 rpm dengan torsi 123 Nm (12,5 kgm) pada 4.500 rpm. Sementara mesin elektriknya dapat menyemburkan tenaga hingga 15 kW (20 PS) pada 2.000 rpm dengan torsi 103 Nm (10,5 kgm) pada 0–1.160 rpm. Jadi, sedan hijau ini memiliki total tenaga sebesar 85 kW (115 PS) dengan torsi 167 Nm (17,0 kgm).

Tahun lalu, PT HPM bahkan menyewakan dan menjual kendaraan ini. Biaya sewa yang dikenakan sebesar Rp 9 juta untuk pemakaian selama sebulan untuk jangka waktu 1-3 tahun
dengan semua biaya perawatan ditanggung
PT HPM. Sementara harga yang dipatok untuk sedan hijau ini sekitar Rp 490 juta untuk wilayah Jakarta.

Kocaknya Sebuah Kapal Luar Angkasa

Judul Film : Meet Dave
Genre : Fiksi/Komedi
Pemain : Eddie Murphy, Elizabeth Banks, Gabrielle Union, Ed Helms, Brandon Molale, Austyn Lind Myers
Sutradara : Brian Robbins
Produksi : 20th Century Fox
Durasi : 90 menit


Sebuah benda berbentuk bola api meluncur dari langit. Kemudian, jatuh di sebuah rumah dan masuk ke akuarium. Tak berapa lama air di akuarium tersedot oleh Orb, benda angkasa tersebut yang dapat menyerap garam dari lautan di bumi.

Sementara itu, sebuah kapal angkasa mendarat di Pulau Liberty, tempat patung kebanggaan rakyat AS berdiri. Anehnya, kapal tersebut berbentuk manusia. Kapal itu dikendalikan oleh Kapten (Eddie Murphy) dan beberapa awaknya yang menggerakkan kapal agar bertingkah laku mirip manusia.

Kapten dan awaknya merupakan makhluk dari planet Nil yang berbentuk manusia mini. Kedatangan mereka untuk mengambil Orb. Orb akan digunakan sebagai sumber tenaga di planet mereka yang mengalami krisis energi.

Karena kapal tersebut berbentuk manusia, mau tidak mau kapal tersebut harus berinteraksi dengan penduduk bumi. Untuk membantu menjalani kehidupan di bumi, Kapten dan awaknya mengandalkan mesin pencari Google dan Yahoo. Sampai akhirnya, kapal tersebut bertemu Gina Morison (Elizabeth Banks). Kapten dan awaknya kikuk karena tidak tahu harus berbuat apa. Nama pun tidak punya.

Akhirnya kapal tersebut menyebut dirinya sebagai Dave Ming Chang. Menurut mesin pencari tersebut, nama itu banyak digunakan oleh penduduk di bumi. Lambat laun Kapten dapat mengendalikan kapalnya untuk berinteraksi dengan manusia, terutama Gina.

Sementara itu, anak Gina, Josh (Austyn Lind Myers), menjadi penemu Orb. Sayang, Orb itu diambil paksa oleh teman Josh.

Seperti sudah direncanakan, akhirnya Josh dan Dave bertemu. Karena tingkah laku Dave yang aneh, Josh berpikiran bahwa Dave adalah makhluk luar angkasa. Hal itu ditanyakan Josh. Josh juga bertanya mengapa Dave datang ke bumi. Dave pun mengatakan yang sebenarnya bahwa mereka mencari Orb.

Seiring berjalannya waktu, Kapten beserta awaknya yang awalnya menganggap manusia sebagai makhluk kejam, akhirnya menyadari bahwa manusia itu memiliki sesuatu yang kompleks. Bahkan, mereka menganggap kehidupan di bumi sungguh menyenangkan.

Namun, salah seorang awak kapal menganggap Kapten dan awak yang lain telah melupakan tujuan awal mereka, yaitu mencari Orb. Awak kapal tersebut bahkan mengatakan hampir seluruh awak kapal terbuai oleh keindahan kehidupan di bumi.

Dia pun melakukan kudeta dengan dibantu beberapa awak kapal. Kapten dipenjara. Bahkan bersama awak Nomor 3, Kapten dibuang keluar kapal.

Kapal yang telah berganti pemimpin melakukan kekacauan di bumi. Itu dilakukan untuk mencari Orb.

Setiap film yang dibintangi Eddie Murphy selalu mengundang tawa penonton. Misalnya seperti film Beverly Hills Cop, The Nutty Professor I dan II, Daddy Day Care, Dr Doolittle, dan Norbit. Dalam film ini pun, akting Eddie kerap membuat penonton tersenyum. Tak hanya dari gaya berbicaranya, tingkah laku dan mimik wajah aktor kulit hitam ini mampu menghidupkan suasana.

Seperti yang terlihat di awal film ketika kapal wujud manusia itu hadir. Dengan pakaian jas tahun 1970-an, Eddie harus berjalan layaknya orang pincang. Tapi dengan gaya yang berubah-ubah. Begitu pula mimik wajahnya. Eddie begitu lihai mengubah mimik dari muka kaku, tersenyum dengan hati terpaksa, dan lainnya. Bahkan, dia bisa tampil berwibawa saat menjadi pemimpin kapal. Sepertinya, roh film ini ada pada diri Eddie karena dia memainkan dua karakter yang berbeda.

Cerita yang ditulis oleh Robb Greenberg dan Bill Corbett ini juga mudah diikuti. Alurnya bahkan sederhana untuk dipahami, meski ada sedikit adegan yang dibuat terkesan bertele-tele. Namun begitu, film bergenre komedi dan diarahkan oleh Brian Robbins ini layak untuk ditonton sebagai hiburan.

Tuesday, July 08, 2008

Transformasi Perangai Pemuda Pecundang

Judul Film : Wanted
Genre : Aksi/thriller
Pemain : James McAvoy, Morgan Freeman, Angelina Jolie, Terrence Stamp, Thomas Kretschmann, David O’Hara
Sutradara : Timur Bekmambetov
Produksi : Universal Pictures
Durasi : 110 menit


Pertarungan tak imbang terjadi di atap sebuah gedung. Satu orang melawan lima orang. Namun, pertarungan itu dimenangi satu orang, yaitu Mr X (David O’Hara). Sayang ia kemudian tersungkur karena tertembus peluru yang dilesakkan seseorang dari jauh.

Sementara itu, akuntan pelanggan, Wesley Gibson (James McAvoy), selalu ditekan oleh bosnya karena dianggap tak becus bekerja. Ia juga merasa hidupnya menjemukan. Apalagi ia hidup sendiri tanpa mengenal seorang ayah. Hidup Wesley makin tak menyenangkan karena pacarnya berselingkuh dengan teman sekantor Wesley.

Sampai akhirnya Wesley bertemu Fox (Angelina Jolie), anggota Fraternity, di sebuah supermarket. Fraternity merupakan kelompok pembunuh yang berprinsip bunuh satu orang, selamatkan seribu. Konon, kelompok ini sudah ada sejak ribuan tahun untuk menjaga keseimbangan hidup.

Kelompok Fraternity sengaja merekrut Wesley. Sebab, Wesley memiliki kekuatan yang selama ini tidak ia sadari. Buktinya, ia mampu menembak sayap lalat yang sedang terbang. Selain itu, Wesley merupakan keturunan pembunuh berdarah dingin yang juga anggota Fraternity, yaitu Mr X. Sayangnya, Mr X telah terbunuh.

Melalui kelompok yang dipimpin Sloan (Morgan Freeman) ini, Wesley yang sebelumnya sebagai pemuda pecundang berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Berbagai latihan dijalani, mulai dari bertarung dengan senjata sampai melesatkan peluru yang bisa berbelok. Tujuannya ingin membalas dendam kematian sang ayah.

Adalah Cross (Thomas Kretschmann) yang menjadi incaran Wesley. Namun, Sloan belum bisa memerintahkan Wesley untuk membunuh Cross. Sebab, itu belum tercetak dalam daftar orang yang akan dibunuh. Uniknya, daftar orang yang akan dibunuh muncul melalui hasil rajutan yang berisi kode dari sebuah alat pemintal.

Sampai suatu ketika nama Cross muncul. Wesley pun mengejar Cross. Ternyata Fox juga diperintahkan Sloan untuk membunuh Wesley karena nama pemuda itu juga muncul di rajutan tersebut. Namun selanjutnya, Wesley mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelompok Fraternity. Pertarungan pun makin seru.

Film yang mulai tayang pada 9 Juli di Tanah Air ini banyak menghadirkan aksi tembak-tembakan. Sejak pertengahan film hingga akhir, peristiwa saling melesatkan peluru kerap hadir. Bahkan, yang menarik, peluru yang dilesatkan bukan hanya mengarah lurus ke sasaran, tetapi juga dapat berbelok.

Penampilan manis nan apik dari Angelina Jolie cukup diacungi jempol. Aksinya sungguh berani dan menantang. Misalnya ketika adegan Wesley dan Fox dikejar Cross. Saat itu Fox terus menembak Cross sambil ‘menari’ di atas mobil. Bahkan, Fox juga harus melenturkan tubuhnya untuk menghindari sebuah mobil yang akan menabraknya.

Rupanya film laga seperti ini yang digemari istri Bradd Pitts. Aksi Jolie tak kalah dengan film yang telah tayang beberapa waktu lalu seperti Mr and Mrs Smith (2005) dan Lara Croft: Tomb Raider (2003).

Ide cerita film ini diangkat dari komik dengan judul yang sama karya Mark Millar dan JG Jones. Menariknya, film ini disutradarai oleh Timur Bekmambetov yang asli Rusia tapi kelahiran Kazakstan. Wanted juga merupakan film berbahasa Inggris pertama bagi Bekmambetov.

Terlepas dari itu, film ini menyimpan pesan bahwa setiap orang dengan segala kekurangan dan kelebihannya berhak menentukan pilihan hidup. Inilah hal penting di balik film penuh desingan peluru karya Bekmambetov.

Monday, July 07, 2008

Superhero yang Temperamental

Judul Film : Hancock
Genre : Drama/Laga/Fantasi
Pemain : Will Smith, Charlize Theron, Jason Bateman, Jae Head
Sutradara : Peter Berg
Produksi : Columbia Pictures
Durasi : 92 menit


Kisah superhero dari Amerika lagi-lagi diangkat ke layar lebar. Namun, superhero ini tidak diadaptasi dari cerita komik, melainkan hasil dari sebuah imajinasi. Superhero ini juga tidak memakai topeng. Tampilannya pun mirip gelandangan. Jadi, identitas jagoan ini mudah diketahui banyak orang.

Film ini diawali dari sebuah SUV putih yang dikejar beberapa mobil polisi di siang hari. Rentetan tembakan diarahkan ke polisi. Sementara itu, John Hancock (Will Smith), tengah tertidur di sebuah kursi di pinggir jalan. Seorang anak kecil membangunkan dan membertahukan Hancock tentang kejadian kejar-kejaran itu. Hancock lalu mengambil botol bir, berdiri, dan terbang melesat ke tempat kejadian.

Penjahat itu berhasil dilumpuhkan. Sayang, penangkapan penjahat itu tidak lazim. Hancock membawa terbang SUV itu lalu menggantungkannya di sebuah gedung. Apalagi, Hancock juga merusak kendaraan polisi, gedung bertingkat, dan jalanan. Karena itu, Hancock bukan mendapatkan pujian, tetapi cacian dari masyarakat karena tindakan yang tidak terkontrol.

Hingga suatu ketika, dia bertemu Ray Embrey (Jason Bateman) yang ditolongnya ketika akan tertabrak kereta. Ray yang ingin balas budi berusaha memulihkan citra Hancock di mata masyarakat. Ray lalu membujuk Hancock untuk bersedia dipenjara karena kelakuannya. Ray juga meminta agar kelakuan Hancock diubah, temasuk kebiasaan menenggak minuman beralkohol. Hancock pun dipenjara.

Di penjara, Hancock berusaha menjadi orang baik. Namun, karena superhero itu ditahan, gelombang kejahatan meningkat. Hancock kemudian dibebaskan untuk mengatasi kejahatan. Dia berhasil. Akhirnya dia mendapat pengakuan dari masyarakat. Dia juga diterima masyarakat karena kelakukannya sudah membaik.

Namun begitu, sejak kehadiran Hancock di keluarga Embrey, istri Ray, Mary Embrey (Chalize Theron), tidak menyukai dia. Itu membuat Hancock tak enak. Padahal, Aaron (Jae Head), anak Ray, dapat menerima Hancock sepenuh hati.

Karena itu, Hancock mengajak Mary berbicara. Tanpa disangka, Mary juga memiliki kekuatan yang sama. Rupanya, mereka adalah pasangan superhero yang telah ada sejak lama. Karena Hancock mengalami amnesia, dia tak ingat jati diri Mary.

Takdir berkata lain. Mereka kini bertemu. Sayangnya, hal itu menyebabkan Hancock kehilangan kekuatannya. Hancock tertembak ketika akan mencegah perampokan di sebuah toko. Dia lalu dibawa ke rumah sakit.

Tanpa diduga Mary yang sedang mengunjungi Hancock juga tertembak oleh penjahat yang kabur dari penjara. Hancock menyerang penjahat itu. Namun, dia juga tertembak. Nyawa Hancock dan Mary di ujung tanduk.

Peter Berg, sang sutradara, cukup piawai menggarap film berdurasi 92 menit ini. Tak hanya kisah heroik Hancock yang ditampilkan, tetapi juga sisi humanis. Itu terlihat saat Ray ingin memperbaiki sikap Hancock dan kepedulian Mary terhadap Hancock saat dipenjara. Begitu juga penggambaran Hancock yang penyendiri, tetapi tetap ingin hidupnya berarti bagi orang lain.

Di samping itu, unsur komedi juga diselipkan. Misalnya, ketika Hancock menabrak papan petunjuk arah saat terbang. Sayangnya, unsur komedi ini juga dihadirkan dengan adegan yang tak pantas dilihat anak kecil.

Film ini juga tidak menggambarkan latar belakang Mary dan Hancock. Melalui dialog Mary, latar belakang mereka hanya disebutkan sebagai pasangan superhero yang telah ada sejak tahun sebelum masehi. Hancock juga ditakdirkan sebagai pelindung Mary. Itu dibuktikan dengan bekas luka pada tubuh Hancock. Tanpa adanya latar belakang tersebut, sepanjang film penonton bertanya-tanya dari mana asal dan kekuatan mereka.

Mengeruk Uang Lewat Matematika

Judul Film : 21
Genre : Drama
Pemain : Jim Sturgess, Kevin Spacey, Kate Bosworth, Laurence Fishburne, Aaron Yoo
Sutradara : Robert Luketic
Produksi : Columbia Pictures
Durasi : 123 menit

Uang memang segalanya. Uang juga bisa membutakan siapa saja. Tak terkecuali Ben Campbell (Jim Sturgess), pelajar jenius yang ahli di bidang matematika. Dia membutuhkan uang untuk membiayai pendidikan ke Universitas Harvard.

Kejeniusan Ben dalam menghitung diperhatikan Micky Rosa (Kevin Spacey), profesor matematika sekaligus guru Ben. Karena itu, Ben direkrut Micky untuk bergabung dalam kelompok pemain judi. Anggota kelompok itu di antaranya Jill Taylor (Kate Bosworth), Choi (Aaron Yoo), Kianna (Liza Lapira), dan Jimmy Fisher (Jacob Pitts).

Awalnya Ben menolak bergabung. Jill Taylor pun mencoba membujuknya, tetapi tidak berhasil. Namun, karena penghasilannya sebesar US$ 8 sebagai pramuniaga di sebuah toko pakaian tak mencukupi dan dia juga membutuhkan biaya pendidikan sekitar US$ 300.000 untuk melanjutkan di Universitas Harvard, Ben akhirnya bersedia bergabung dengan kelompok penjudi asuhan Micky.

Alasan lainnya, beasiswa yang diincar Ben kemungkinan sulit didapatkan karena dia harus bersaing dengan pelajar jenius lain. Terlebih, di kelompok itu ada Jill Taylor yang ditaksirnya.

Berbagai trik dan kode-kode rahasia bermain kartu black jack diajarkan. Trik yang diajarkan merupakan cara menghitung kartu dalam permainan tersebut. Ben yang jenius cepat memahami trik-trik yang diajarkan. Dia juga dapat bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain. Simulasi permainan judi dilakukan. Ben berhasil melewati ujian tersebut.

Berbekal identitas palsu dan kepandaian menghitung kartu, kelompok penjudi itu pergi ke kota perjudian, Las Vegas. Mereka pun bertaruh peruntungan. Tak butuh waktu lama, mereka berhasil meraih uang banyak dari meja judi. Ben yang lebih ahli dalam matematika akhirnya menjadi andalan kelompok tersebut. Tiap akhir pekan, mereka mengunjungi Las Vegas.

Sementara itu, hubungan Ben dengan dua sahabatnya, Miles Connoly (Josh Gad) dan Cam (Sam Golzari), merenggang. Mereka menganggap Ben sudah tidak fokus lagi menjalankan proyek pembuatan robot. Akhirnya, Ben dikeluarkan dari tim proyek robot tersebut.

Di kelompok penjudi asuhan Micky juga ada yang dikeluarkan. Adalah Jimmy Fisher yang dipecat dari tim. Penyebabnya, dia iri dengan kemampuan menghitung Ben yang dapat meraup uang banyak.

Meski begitu, misi meraih uang banyak tetap dilakukan. Sampai akhirnya, Ben dan Micky berselisih karena kelompok itu kalah berjudi. Sementara itu, Cole Williams (Laurence Fishburne), petugas keamanan kasino, mengawasi tindakan yang dilakukan Ben dan kawan-kawan hingga akhirnya Ben tertangkap. Rupanya, Cole juga mengincar Micky.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini cukup menghibur dengan kepintaran Ben dalam menghitung. Begitu juga dengan kemewahan yang dirasakan oleh kelompok penjudi ini. Sayangnya, di tengah cerita film berdurasi 123 menit ini mulai membosankan. Sebab, penonton sudah mengetahui kelihaian Ben di meja judi.

Konflik yang terjadi antara Ben dan Jimmy pun dibuat sekenanya. Tak ada luapan emosi persaingan di antara mereka. Untungnya, pertengkaran antara Ben dan Micky sedikit mengobati kebosanan penonton. Akan tetapi, sosok Kevin Spacey yang piawai memainkan berbagai peran kurang ditonjolkan.

Setidaknya di akhir film, cerita yang dibangun dan alur yang tidak dapat diduga oleh penonton dapat menutupi kekurangan film ini. Apalagi, kehadiran pemain muda dalam film ini juga dapat menyegarkan pandangan penonton.